Imamuddin's Weblog

Just another WordPress.com weblog

Permintaan Istriku yang Tak Mampu Ku Penuhi

Posted by imamuddin pada Agustus 11, 2011

“Mungkin bulan depan aku harus dinas ke Medan, sekalian menengok Bapak.” Kataku kepada istriku yang sore itu dedang menyiapkan teh dan pisang goreng untukku.
“Kan kantor Papi nggak ada cabang di Medan kok dinas ke Medan?” Tanyanya…, aku mulai jengkel, kalau istriku cerewet seperti itu. Aku lebih senang kalau dia diam dan mengiyakan saja apa kataku.
“Study banding ke perusahaan lain.” Kataku ketus, berharap mulut istriku tak lagi berani bertanya setelah aku bersikap ketus tadi. Dan harapanku terkabul, istriku diam.
Aku memang sengaja merencanakan perjalanan Dinas ke Medan, selain memang aku ingin menengok Bapak, ada sesorang yang akan aku temui di sana, mantan pacarku yang baru saja bertemu di Face Book.

Terbayang olehku hari manis yang akan kami habiskan berdua, jalan-jalan ke Brastagi, makan durian sampai puas, minum sirup markisa…hem, berdua dengannya. Dadaku lagsung dipenuhi bunga-bunga bahagia. Desir hangat menyapa dadaku, terasa nikmat.
Aku sudah merancang apa saja yang akan kami lakukan berdua nanti. Mantan pacarku ini berstatus janda, anaknya 2, dia sudah bercerai dengan suaminya sejak anaknya yang kedua masih bayi, yang aku tahu anak pertamanya justru tak berBapak. Jadi bebas bagiku menemuinya kapan saja, tanpa takut ketahuan suaminya, karena dia tidak bersuami. Kalau untuk menutupi semua ini biar tak ketahuan istriku dan aku masih tampak putih, bersih dan berwibawa dimatanya? Gampang, tinggal bersikap baik, pasti dia juga bakal diam saja, dan tak akan curiga.

Beberapa hari sebelum keberangkatan.
Sore itu HP ku bergetar kemudian bersuara, ada panggilan. Aku lihat nomor bapak muncul dilayar.
“Sore Pak.” Sapaku santun
“Saya mau ke Bali ada acara wisata para purnawirawan, setelah itu aku mau ke Jakarta, kamu sedang tidak dinas luar kan?”
“Ya ada pak, kebetulan saya sedang di Jakarta dan tidak kemana-mana.” Kataku dengan nada kecewa…harapan ketemu mantan melayang sudah. Bapak benar-benar datang bukan pada saat yang tepay batinku kecewa.
“Ya sudah, kamu jemput Bapak ke bandara nanti ya.” Katanya sambil menutup telp.
“Mami!!!” Aku memnaggil istriku.
“Ya Pi.” Istriku menanggapi panggilanku dengan berlari-lari tergopoh-gopoh menghapiriku.
“Bapak mau datang, katanya mau seminggu di Jakarta.” Kataku
“Papi kan mau Dinas ke Medan jadi bagaimana ini, nanti selipan donk?” Tanyanya.
“Dinasnya aku batalkan.”
“Bisa pi? Kok Dinas bisa seenaknya dibatalkan ya, perusahaan papi nggak komplain tuh?” Tanyanya mulai cerewet.
“Nggak. “ Jawabku pendek kemudian meninggalkannya begitu saja.
Jengkel…kecewa, kenapa sih Bapak harus datang sekarang? Kenapa nggak bulan depan atau Minggu depan aja. Jadi gagal semua. Sungutku sebal.

Satu Minggu Bapak Di Jakarta, sepertinya Bapak sangat senang di Jakarta, karena istriku sangat memanjakannya. Bapakku jadi betah.
Setelah Bapak pulang, aku membatalkan perjalanan Dinasku ke Medan. Aku putuskan untuk tidak jadi menemui mantan pacarku.
Tapi kekecewaanku tidak bertahan lama, mantan pacarkulah yang kahirnya ke Jakarta, mungkin dia nggak tahan untuk bertahan lama-lama untuk menunda pertemuannya denganku.
Jakarta yang penuh kenangan, kami seperti pemuda-pemudi yang mabuk kepayang. Jalan-jalan ke Dufan, makan di restoran terapung di Ancol, selama mantan pacarku di Jakarta, aku selalu minta ijin pulang cepat dari kantor dan baru pagi sampai di Rumah. Untung istriku tidak menghubungiku di kantor, tapi menelephoneku ke HP, jadi semua berjalan aman seperti yang di harapkan. Walaupun kebersamaan kami begitu singkat, tapi semua meninggalkan kenangan yang begitu mendalam. Dadaku berdesir Indah tiap kali aku mengingat kebersamaan kami saat dia di Jakarta.

“Dar!!!!” Pertir itu menggelegar, begitu dasyat seolah ingin menyambarku hidup-hidup. Petir itu berasal dari pertanyaan istriku, yang selama ini kukira tidak curiga, tapi ternyata sudah melakukan penyelidikan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, sehinga tanpa perlu waktu yang lama bukti bisa terungkap semuanya. Tinggal aku bungkam ak bisa berkata-kata. Tak bisa membela diri, selain bilang, bahwa semua bukti yang disampaikan istriku itu hanya dugaan tanpa alasan. “Sudahlah, mami tetang saja, mami kan sangat mengenalku, aku tidak mungkin begitu.” Kataku, mencoba membuatnya tenang. Dan ternyata dia sepertinya percaya, buktinya dia diam saja, tidak bertanya lagi sampai hampir satu bulan lamanya. Legaaaa…rasanya. Saya jadi tenang untuk terus berkomunikasi dengan mantan pacar lewat HP, BB, dan kecanggihan technologi yang lain.
“Dar!!!” Pertir ke dua beberapa bulan setelah kejadian itu adalah Bapak sakit dan dirawat di rumah sakit. “Aku harus tengok Bapak, sekalian tengok si dia.” Pikirku. Huhg…dasar suami sekaligus anak yang tak berbudi ya aku ini, Bapaknya sakit kok dijadikan alasan untuk menemui mantan pacar. Tapi siapa yang bakal peduli, yang penting Bapak senang lihat aku datang dan sang pacar juga gembira, karena datang mengunjunginya.
Istriku dengan telaten mencarikan aku tiket untuk pulang ke Medan dan menyiapkan oleh-oleh untuk Bapak.
“Berangkat kapan Pi?”
“Jumat.” Jawabku
“Tapi tadi aku telp Bapak sudah sehat, sudah pulang malah dan sekarang sudah jalan-jalan cukur rambut, papi tetap mau berangkat?” Tanyanya diluar dugaanku, dari nada pertanyaannya itu aku menangkap jelas getar curiga dari caranya bertanya.
Memang Bapak cuma sehari-semalam dirawat di rumah sakit, sakitnya tidak terlampau parah, jadi kelihatan sekali kecemasanku terlalu dibuat-buat.
“Tapi saya harus memastikan Bapak itu sembuh benar atau tidak, mami nggak suka saya tengok bapak?” Tanyaku galak, membuat istriku mendur selangkah karena takut membuatku makin marah.
“Boleh saya minta sesuatu sebelum papi ke Medan?” Tanyanya hati-hati sekali.
“Mau minta apa? Oleh-oleh Durian? Nanti aku bawakan.” Kataku ceria.
“Bisakah papi tidak menemui perempuan itu ketika di Medan nanti? Dan benar-benar datang untuk menengok Bapak?”
Glek….aku menelan ludahku, menatap mata istriku, tak mampu berkata-kata.
“Oh…istriku, tahukan kamu justru tujuanku ke Medan yang utama untuk bertemu dia, menengok Bapak adalah alasan tepat yang bisa aku buat.” Kataku dalam hati.
Sumpah malam itu sebelu berangkat ke Medan aku tak bisa tidur, aku mengangkat kakiku keatas menyandarkan pada tembok, mataku terbuka sepanjang malam…terngiang terus permohonan istriku dan rencana matang yang telah aku siapkan untuk mengkhinatinya dan tak mungkin aku rela membatalkannya.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.