Imamuddin's Weblog

Just another WordPress.com weblog

Ayah dan Sepeda Tiga Ratus Ribu

Posted by imamuddin pada Agustus 13, 2011

Kebanyakan orang selalu mengatakan ”susah-susah dahulu, senang senang kemudian”, dan tak jarang orang memang mempercayainya, menjadikan sugesti sebagai penguat diri ketika harus bertahan dan beradaptasi dengan kehidupan yang pahit dan nelangsa. Namun ini sepertinya tak berlaku untukku, aku lebih menganut bahwa “senang-senang dahulu, menderita kemudian”.

Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, tapi ketika aku berumur delapan belas tahun, orang tuaku menghadiahiku seorang adik perempuan. Ini merupakan sebuah petaka bagiku, aku yang sudah terlanjur egoisnya tinggi, manja dan mudah tersinggung sekarang harus menerima kenyataan bahwa aku memiliki seorang adik. Aku merasa sangat iri atas kehadiran adikku yang mungkin akan menggantikan posisiku atas kasih sayang yang diberikan kedua orang tuaku, karena selama ini aku merasa paling dikasihi oleh kedua orang tuaku. Pakar psikolog memang mengatakan seorang anak sebaiknya mempunyai adik sebelum usia di atas sepuluh tahun. Dan aku sudah terlanjur kedaluarsa untuk menerima kenyataan ini.

Aku sudah menginjak kelas sembilan saat ini. Sepulang dari sekolah seperti biasa aku memijit-mijit punggung ayahku sambil bercengkerama,

“Bapak baru pulang ya, bagaimana tadi kerjanya pak, sudah dapat uang apa belum?, aku sangat hafal dengan air muka ayahku ketika bayaran, karena ibuku pasti ada di sampingnya dengan muka sumringah.

“iya, ini tadi Bapak habis dapat uang, tapi cuma tiga ratus ribu, selama bulan puasa ini bapak baru sekarang dapat uang, kalo kamu mau minta ya sama mama sana.”

“pak, bapak dulu pernah janji lo, waktu aku kelas enam, katanya kalo aku dapat juara mau dibelikan sepeda mustang. Sekarang kan aku sudah kelas sembilan pak, sudah tiga tahun lo janjinya, belikan aku sepeda aja ya pak? Aku sudah mulai merajuk.

“kamu tanya saja mamamu, kalo setuju ya beli”

“lo Pak kalo beli sepeda bagaimana kebutuhan kita, sebentar lagi sudah mau lebaran, belum ada persiapan sama sekali ”ucapan mamaku sepertinya kurang setuju dengan ideku.

“yak kan nanti dapat uang lagi to Bu”, doakan saja mudah mudahan rejekinya Bapak lancar, dan dapat uang lagi.

Pekan berikutnya, hari Sabtu adalah hari di mana pasar di kampungku dibuka. Ayahku dengan semangat berbekal uang tiga ratus ribu, mengayuh sepedanya menuju ke pasar untuk membelikanku sepeda. Panas yang sangat terik dan jalanan yang berliku tak akan menggoyahkan tekad ayahku, walaupun dalam keadaan puasa seperti saat ini sekalipun. Ayahku pergi bersama kakakku laki-laki yang tertua. Pada saat menjeleng lebaran seperti ini kakakku memang libur sekolahnya, ia pun datang dari Kendari untuk pulang kampung sekaligus liburan ramadhan.

Tak ada yang dibeli oleh ayahku selain sepeda harga tiga ratus ribu itu, karna memang hanya itulah uang yang dimiliki ayahku. Biasanya ayahku selalu ingin membeli barang-barang murah, seperti baju RB yang hangat atau sabit untuk ke kebun, kalau bulan ini bukan bulan puasa dan ayahku mempunyai uang yang lebih, ayahku pasti akan membeli kue-kue pasar yang bermacam-macam. Dan aku sangat menyukai hal itu. Karena aku, ayahku dan ibuku memiliki hobi yang sama, yaitu hobi makan. Tetapi hari ini, ayah harus menahan keinginannya untuk membeli barang-barang itu demi aku. Dia membelikanku sepeda mustang warna merah sesuai dengan keigunanku. Pulang dengan membawa sepeda merah, tentu lebih dari sekedar membeli baju dan makanan kesukaanya.

Tetapi, malang benar nasibku, ketika dalam perjalanan pulang, sepeda baruku yang dinaiki oleh kakaku rusak, patah besi tengahnya. Besi yang merupakan penghubung antara badan sepeda dengan rodanya, dan terpaksa sepeda baruku tidak bisa dinaiki, ayahku kemudian membawa sepedaku dengan berjalan kaki sepanjang tuju kilo meter, sementara kakakku membawa sepeda yang dinaiki ayahku pulang. Aku sangat kecewa dengan kejadian ini, entah karena apa, aku tidak tau, mungkin karena harganya yang sangat murah sehingga kualitasnya pun tak sebaik sepeda-sepeda seharga di atasnya. Tapi aku sangat kasihan kepada ayah, dengan ikhlasnya Dia ingin menghadiahiku sebuah sepeda yang sangat aku idam-idamkan, tapi dia tidak sempat melihatku tesenyum berterima kasih padanya. Ketika kulihat sepeda baruku harus masuk kandang menunggu beberapa waktu lagi untuk dibawa ke bengkel untuk diperbaiki.

Setelah kejadian sepeda itu, aku mengikuti kegiatan lomba paduan suara antar sekolah, dan aku termasuk peserta dari sekolahku untuk mewakili kagiatan ini. Sejak sore kami sudah berkumpul di rumah guru kami yang memiliki mobil untuk persiapan keberangkatan kami. Aku pun juga sudah menyiapkan diri sejak siang hari, aku sudah menyiapkan bekal berupa uang saku yang diberikan ibuku, dan beberapa butir buah jeruk dari kebun nenekku. Tapi ketika aku berangkat ternyata aku lupa untuk membawa jerukku, dan disaat seperti inilah kembali, lagi-lagi ayahku yang berperan aktif untukku, mengantarkan tiga butir jeruk yang akan kubawa. Tapi ternyata ayah kalah cepat. Aku sudah berangkat sejenak sebelum ayah datang. Ayah memang sudah memacu sepedanya dengan sekuat tenaganya, namun kecepatan sepeda tak seberapa dibandingkan dengan kecepatan mobil yang kami tumpangi. Ayah gagal lagi menyenangkan buah hatinya yang sangat ia sayangi.

itu adalah kejadian lima tahun lalu ketika aku baru berumur enam belas tahun, di mana aku masih kelas sembilan di madrasah tsanawiyah. Kini aku sudah semester empat di perguruan tinggi, dan sudah berusia dua puluh tahun. Ayahku pun sekarang sudah tiada lagi, telah neninggalkan kami semua untuk selama-lamanya. Sungguh aku tiada pernah menyangka, ayahku terlihat sangat sehat dan gemuk tiba tiba sakit dan badanya mulai menyusut.

Semua itu berawal dari pernikahan kakak perempuanku yang sangat membahagiakan bagi kami semua, yang ternyata juga membawa petaka bagi keluarga kami. Kakakku yang belum lama kembali dari Jakarta dengan mudahnya menarima pinangan laki-laki duda beranak satu yang tak begitu ia kenal. Di era yang serba modern saat ini, mungkin dalam hal mencari pasangan pun juga harus modern, tak boleh sembarang asal terima seperti zaman nabi Muhammad,tapi harus selektif dan cermat. Perkenalan bertahun-tahun saja terkadang nasih gagal membina rumah tangga, apalagi yang hanya tiga bulan seperti kakakku, lebih banyak resiko yang harus ditanggung karena kurangnya pemhaman sifat masing-masing pihak. Dan itulah yang memang belum disadari oleh kakakku, ternyata suaminya adalah seorang yang suka gonta ganti pasangan dan tergolong orang yang cepat bosan. Dari kajadian demi kajadian perselingkuhan, beralihlah pada tindak kekerasan yang tak jarang ia tunjukan pada kakakku. Hingga akhirnya entah karena apa, kakakku mengadu bahwa suaminya ingin menceraikannya ,walaupun kakakku menolaknya karena sementara mengandung.

Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya menderita, dan sifat itu pulalah yang yang dimiliki oleh hati lembut ayahku. Ia sangat terpukul dan menderita dengan nasib yang menimpa kakakku, tubuh kurus kering kakakku seolah-olah ikut mengontak ayahku yang juga tergerus badannya hingga tinggal tulang berbalut kulit, dan kakakku tinggal tulang berbalut derita.

Kini, Ayahku yang didiagnosa dokter terkena penyakit diabetes melitus harus benar-benar kami jaga emosi dan psikologinya agar tetap stabil, sehingga kami pun merahasiakan kejadian-kejadian yang semakin hebat dan menjadi bangkai dalam keluarga kami, yang walaupun kami tutup-tutupi serapat apapun tetep akan tercium juga dan pada akhirnya akan meledak. Dan itulah yang benar-benar telah terjadi pada jiwa ayahku, lahar derita yang ia timbun dalam dadanya tidak dapat ia timbun dalam keadaan yang teramat panas. Sehingga meledaklah seluruh lahar yang ada dalam gunung hatinya dan membuat semua orang terluka dan menangis ketika harus melihat kenyataan ayah harus melepaskan nyawanya yang tinggal satu-satu.

Dan inilah kehidupan itu. Kita tidak akan tau bagaimana Tuhan menyiapkan skenario untuk kita perankan. Dan aku baru menyadari, mungkin ayahku memang sengaja memberikan kami semua peninggalan yang sangat lucu dan manis untuk kami, adikku, anugrah yang tiada terkira itu. Tidak dapat kami bayangkan kelurga kami tanpa kehadirannya yang mengobati luka dan kesedihan kami.

Kini aku adalah harapan akhir keluarga kami, dimana sekarang kakak tertuaku menjadi kepala keluarga bagi kami, dan kakaku yang perempuan tengah mencari kehidupan yang pasti dalam keadaanya sebagai seorang Janda. Aku akan bersungguh-sungguh dalam mencari kebahagiaan itu “Bapak”, untuk kebahagiaan keluarga kita, walaupun terkadang pahitnya kenyataan dan kerasnya kehidupan jauh dari keluarga nyaris meruntuhkan semangat dan tekadku. Hidup bersama orang-orang yang bukan bagian dari keluarga memang sangat menguji metal dan sifat ku yang egois, manja, dan mudah tersinggung. aku akan berusaha menjadi kebanggaanmu, dan aku pun akan membelikanmu sepeda untukmu menuju surgamu kelak, yang tidak akan patah besinya dan aku akan selalu mengantarkan buah-buah zikir segar untukmu di malam yang senyap, dan aku yakin aku tidak akan ketinggalan mobil lagi.

Setiap tetes keringatmu adalah darahku

Yang mengalir dalam setiap hembusan nafasku

Dan itu adalah zikir-zikirku sepanjang waktu

Engkaulah pemilik cinta suci itu

Sumber

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.