Imamuddin's Weblog

Just another WordPress.com weblog

Bidadari di Surga

Posted by imamuddin pada Agustus 16, 2011

“Pikiran bisa menipu. Hati tak pernah menipu,” kata Aryo. Sampai sekarang aku kadang masih bingung memahaminya. Biarlah, seiring berjalannya waktu mungkin aku akan paham. Barangkali Kompasioner di sini ada yang kompeten di bidang ini yang bisa membantuku segera paham, aku sangat menghargainya.

Dalam proses pencarian makna di tengah terombang-ambingnya pikiran, dimana batasan menjadi samar antara akal sehat dan tidak sehat, alam bawah sadarku mengembara tak tentu arah. Dan, yang keluar dari bibirku adalah, “Aku ingin menjadi bidadarimu di surga,” kataku pada Aryo, tanpa perasaan bersalah. Bagaimana bisa aku bicara seperti ini, bagaimana rumusnya, apa dasarnya. Konsep bidadari di surga, belum sepenuhnya kupahami.Aku harus menuntut ilmu terus untuk memahami ini.

Di alam nyata, Bapak Presiden BJ Habibie sedang menangis di samping pusara istrinya, Ibu Ainun, dengan puisi cintanya yang sangat menyentuh hati, yang sempat kudengar itu bukan tulisan asli Pak Habibie, dan sampai sekarang aku belum mendapat konfirmasi. Begitu indah puisi itu, ingin ku salin dan tempel di sini :

Ainun… Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE

Puisi itu menjadi topik hangat obrolan pagi hari di kantorku. Sampai seorang sahabat menggodaku, “Aisa, jangan terinspirasi untuk bunuh diri ya, hehe…,” katanya.

“Nanti diam-diam kamu ingin jadi bidadarinya di surga, lalu ambil jalan pintas,” lanjutnya.

Aku tersenyum. Aku tidak punya pikiran bunuh diri, tapi memang benar aku ingin menjadi bidadarinya di surga. Sekarang, setelah berada dalam kesadaran penuh, apa masih ada gunanya mengkhayalkan bidadari di surga. Aku menghibur diriku, aku harus berpikir, bertutur dan bertindak sekualitas bidadari, dan aku sudah menjadi bidadari di dunia ini. Apa iya bisa seperti itu, ya anggap saja bisa, ini kan masalah konsep dalam kepala. Konsep yang maknanya akan berkembang terus dan bisa diaplikasikan dalam banyak hal yang lebih berguna.

Aku harus segera selesai dengan diriku sendiri. Selama aku sibuk mengasihani diri sendiri, sibuk meratapi kesedihan diri sendiri, aku tak akan sempat memikirkan kebahagiaan orang lain. Aku harus bahagia sekarang juga agar aku bisa membagi kebahagiaan pada orang lain. Kalau aku tidak punya bahagia, apa yang mau kubagi buat orang lain.

Cinta itu energi bermata dua, bisa membunuh bisa menghidupkan, bisa menghancurkan bisa menyelamatkan, bisa melemahkan bisa menguatkan. Semua hal sama saja seperti itu. Ini masalah pilihan mau digunakan untuk apa energi cinta itu.

Aryo Aryo, dengan caramu, kamu benar-benar telah menyentuh hatiku. Hingga melambungkan anganku menjadi bidadari di surga. Dan aku tak merisaukan masalah kepemilikan lagi. Aku memilikimu. Aku memiliki semangatmu, keapaadaan dirimu, kesetiaanmu, kasih sayangmu, ketegasanmu, kedewasaanmu, keimananmu. Apalagi yang lebih besar dari itu.

Mungkin aku terlalu berlebihan menilaimu. Kamu juga kadang rapuh. Kamu juga kadang ngambek seperti anak kecil. Kamu juga kadang menangis. Tapi, aku tahu kualitas sebenarnya dirimu. Semoga kamu bahagia dengan bidadarimu.

 

Sumber

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.