Dua Bocah Kecil Terbujur Kaku Setelah Ditinggal Seminar oleh Ayah Ibunya
Posted by imamuddin pada Oktober 13, 2011
” Ibu kenapa ibu menyusun barang-barang kita ke dalam tas?” tanya si sulung berusia 6 tahun pada ibunya.
” Kita besok akan ke rumah nenek di kabupaten, ayah dan ibu ada seminar tiga hari di Jakarta, jadi kalian akan dititip ke rumah nenek”.
” Seminar?, apa Endo dan Endi gak boleh ikut ayah ibu seminar ke Jakarta? “
” Gak boleh sayang, kalian masih anak-anak dan ini seminar khusus untuk tenaga medis seperti ayah dan ibu “.
” Oooo, apa cuma bawa baju saja kita ke sana? boleh gak Endo bawa mainan mobil-mobilan Endo? “
” Tasnya gak muat sayang, nanti sampai di rumah nenek ayah belikan lagi di sana, gimana? “
” Hore…hore!! Endo mau. Kalau gitu gimana kalau kita berangkat malam ini saja bu”.
” Besok pagi Endo, cepatlah tidur biar besok tidak capek di jalan “.
” Iya bu ” Endo beranjak ke kamar tidurnya dengan penuh semangat.
Sesaat kemudian sang adik Endi datang kepada ibunya sambil merengek.
” Kenapa ndi, abangnya nakal lagi ya?”.
Bocah 4 tahun itu menggeleng.
” Kata bang ndo besok adik dititip lagi ke rumah nenek, kenapa setiap ayah ibu seminar adik dititip? boleh gak adik ikut sekali ini saja sama ibu seminar “.
” Gak boleh sayang, cuma tiga hari saja. Di rumah nenek ada ayunan loh.. maukan adik main ayunan? “.
Endi mengangguk sambil menghapus air matanya. Mereka tertidur malam itu berharap pagi segera menjelang. Esoknya setelah perjalanan 4 jam, mereka sampai juga di rumah nenek. Kedatangan mereka disambut hangat oleh nenek berusia 65 tahun itu.
Keesokannya ayah dan ibu telah bersiap-siap akan berangkat ke Jakarta, kedua anak mereka Endo dan Endi melepas kepergian mereka dengan deraian air mata.
” Ayah, ibu, janji ya cepat pulang ” kata Endo sambil menangis terisak.
” Iya sayang ayah janji, jangan nakal ya kalian di rumah nenek. Makannya yang banyak ya…Endo harus jaga baik-baik Endi dan jangan berantem “.
” Iya ayah, Endo sama Endi gak akan berantem ” kata Endo.
” Tapi adik mau ikut ibu ” kata Endi sibungsu yang dari tadi terus memegangi rok yang dikenakan ibunya.
” Endi…dengar ibu ya nak, ayah sama ibu pergi cuma sebentar. Endi harus nurut ya, kan ayah dah belikan mobil baru satu sama abang satu sama adik. Jadi kalian main mobil baru di rumah nenek ya “.
” Adik mau ikut ibu, adik takut tidur di tempat nenek… “.
” Takut apa sih Endi, rumah nenek enak kok…ada kolam ikan, ada banyak bunga, ada ayunan, ada tv besar. Endi sama Endo harus di sini sampai ayah ibu pulang dari Jakarta ya”.
” Ayo ma kita berangkat, nanti bisa-bisa kita ketinggalan pesawat ” tutur ayah pada ibu.
” Bu kami titip Endo dan Endi ya ” tutur sang ibu dengan hati berat.
Namun sibungsu Endi menangis meronta-ronta, neneknya segera menahan bocah itu agar ia bisa melepaskan ibunya. Sedang Endo hanya berdiri terdiam dengan sesenggukan. Dengan hati yang sedih dan bimbang sang ibu melambaikan tangan pada mereka, begitupun sang ayah. Endo membalas lambaian tangan kedua orangtuanya.
” Ibu jangan lupa bawa makanan enak ya dari Jakarta ” teriak Endo dengan senyum yang dipaksakan.
” Iya sayang, jaga baik-baik adikmu ya “.
Dengan susah payah sang nenek membujuk sang cucu kecilnya Endi. Mengajaknya berkeliling rumah, mengajaknya berkebun, dan main ayunan di taman belakang rumah. Membujuk agar Endo dan Endi mau tidur dengannya dan melupakan sejenak ayah ibunya. Pekerjaan yang tak mudah buat sang nenek yang sudah setahun ini baru berjumpa lagi dengan kedua cucu tercintanya. Tubuhnya yang renta 3 hari berturut-turut harus melakukan pekerjaan ekstra, dan hari ketiga ia terlelap di sore hari saat kedua cucunya sedang asyik bermain di taman belakang rumah.
Di taman belakang, ada sebuah sumur tua yang tertutup rapat dengan seng berkarat. Endi kecil penasaran dengan apa yang ada di balik seng. Ia menggeser seng itu dan terlihatlah sebuah sumur tua. Ia kemudian berteriak pada sang kakak Endo.
” Bang, bang ndo..lihat ada terowongan, ini terowongan bawah tanah bang. Hebat ya! seperti di flim-flim perang-perang itu bang “.
Endo melongokkan kepalanya melihat ke dalam terowongan yang dikatakan sang adik. Namun saat ia melongokkan kepalanya itu, tanpa sengaja mobil mainan yang dipegang sang adik tersenggol olehnya dan jatuh ke dalam sumur tua yang sudah hampir puluhan tahun tidak digunakan itu. Endi kecil menangis karena mobilnya yang terjatuh itu. Sang kakak kemudian menawarkan mobilnya untuk sang adik, namun Endi menolak mobil yang ditawarkan kakaknya.
” Adik gak mau, punya abang jelek. Adik mau mobilnya adik….” Kata Endi sambil meraung-raung. Lalu hal tak terduga terjadi, niat baik Endo untuk mengambilkan mobil adiknya berujung petaka. Endo si sulung terjatuh ke dalam sumur tua. Melihat itu sang adik yang berulang kali memanggil neneknya yang tidak juga terbangun, akhirnya menyusul masuk ke terowongan untuk menyelamatkan kakaknya. Aksinya seperti flim-flim peperangan yang pernah ia tonton sebelumnya.
Saat nenek terbangun, ia sibuk mencari kedua cucunya. Setelah lama mencari dan memanggil-manggil matanya menangkap sumur tua yang terbuka dan mobil Endo di samping sumur. Hari yang mulai gelap itu ditambah penglihatan nenek yang sudah kurang baik membuat ia tidak bisa melihat apapun di dalam kolam. Akhirnya ia meminta beberapa tetangga untuk melihat ke sana. Dan kedua bocah malang itu telah terbujur kaku.
Para tetangga mengeluarkan jenazah kedua bocah itu disertai dengan jerit tangis sang nenek. Malam harinya ayah dan ibu pulang, sesampai di rumah nenek mereka sempat kebingungan kenapa rumah orangtua mereka itu begitu ramai. Namun sang ibu akhirnya tersungkur di samping jenazah kedua anaknya. Ia menangis sejadi-jadinya. Sang ayah juga merasakan kepedihan yang sama. Sedih yang dalam dan teramat sangat.
Saat pemakaman sang ibu masih terngiang-ngiang kata-kata terakhir kedua buah hatinya. Saat dimana tangan Endi tak mau melepasnya. Makanan lezat yang ia simpan baik-baik di dalam tasnya, dan semua kisah tentang Endo dan Endi. Banyak penyesalan terselip di hati mereka masing-masing. Ada satu perasaan remuk dan kehancuran menghimpit keduanya.
” Ma, hidup ini penuh perjuangan dan penuh pengorbanan. Apakah kita juga akan mengorbankan orang-orang di desa yang masih mengharap uluran tangan kita? mereka hanya tahu kita adalah perpanjangan tangan Tuhan. Mama mau kita sampai kapan begini terus, Endo dan Endi sudah tenang di sana. Kita harus relakan, karena jika Tuhan berkehendak siapa yang sanggup menghentikannya. Apakah tekad mama yang dulu ingin mengabdikan diri demi orang banyak telah sirna dengan kepergian anak-anak kita? “
” Seandainya saja mama atau kita tidak ikut seminar, mungkin kita tak akan kehilangannya “.
” Seandainya mama berpikiran terus demikian mama tak akan bisa berjalan ke depan ma, andaikan kita tahu musibah itu akan terjadi pastilah kita tak akan pergi meskipun seminar itu penting dan diwajibkan kepala dinas. Tapi kita tak tahu kan ma? kita tak tahu apa yang Tuhan kehendaki dari hidup kita “.
” Baiklah, tapi kita akan berkunjung sekali lagi ke kuburan anak-anak itu barulah kita akan pulang ke desa. Berat rasanya kembali ke rumah kita tanpa anak-anak, kenangan yang begitu banyak di sana membuatku takut tak sanggup melewati hari-hari tanpa mereka, rumah itu pasti akan terasa amat sepi ya pa? “.
” Besok kita akan ke sana, nanti kalau kita ada waktu kita akan berkunjung lagi ke kuburan. Tuhan pasti akan membantu menguatkan kita ma, percayalah… “.
” Katakanlah sama ibu, kita akan mengajaknya serta agar ia jangan terpuruk dengan perasaan bersalah sendirian di sini “.
(Cerita diangkat dari kisah nyata, peristiwa terjadi pada tahun 1997 di Kal-Bar)




