<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Imamuddin&#039;s Weblog</title>
	<atom:link href="http://imamuddin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://imamuddin.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 07:21:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='imamuddin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/e86b88d6449c5d1925630e92549d5e2e?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Imamuddin&#039;s Weblog</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://imamuddin.wordpress.com/osd.xml" title="Imamuddin&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://imamuddin.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Senja Untukmu</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/senja-untukmu/</link>
		<comments>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/senja-untukmu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 16:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imamuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerita sedih]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah remaja]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[senja]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imamuddin.wordpress.com/?p=1271</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini ulang tahunmu. Setengah hari telah berlalu. Hampir senja, dan aku bahkan belum menemukan kado untukmu. Aku bingung, harus memberikan apa. Kau ingat waktu dulu? Di setiap senja, kita selalu memanjat atap rumahku. Menatap mentari kembali ke peraduan. Kau tahu, aku tergila-gila pada senja. Aku sering mengajakmu berkeliling Jogja, hanya untuk mendapatkan view senja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1271&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hari ini ulang tahunmu. Setengah hari telah berlalu. Hampir senja, dan aku bahkan belum menemukan kado untukmu. Aku bingung, harus memberikan apa.</p>
<p style="text-align:justify;">Kau ingat waktu dulu? Di setiap senja, kita selalu memanjat atap rumahku. Menatap mentari kembali ke peraduan. Kau tahu, aku tergila-gila pada senja. Aku sering mengajakmu berkeliling Jogja, hanya untuk mendapatkan <em>view</em> senja terbaik. Dan herannya kau selalu saja menemaniku. Buatku, hanya kau yang mengerti kegilaanku pada senja. Aku sudah berkeliling banyak kota dan negara hanya untuk menikmati senja terbaik, mengabadikan senja dalam kamera poket yang selalu kubawa ke manapun aku pergi, sesekali mengirimkannya padamu. Mungkin hanya kau yang mengerti kegilaanku pada senja, hingga saat ke manapun kau pergi, kau sudah tau oleh-oleh apa yang akan kuminta, dan sepulangnya kau dari perjalananmu, aku akan mendapatkan selembar foto ukuran <em>postcard</em>,  dengan foto senja yang kau abadikan lewat DSLR kesayanganmu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1271"></span>Kau ingat waktu dulu? Di setiap senja, kita selalu memanjat atap rumahku. Menatap mentari kembali ke peraduan. Di senja itu pula, aku selalu bercerita tentang hidupku seharian itu. Kau hanya diam mendengarkan. Sesekali menimpali ceritaku, atau tertawa jika kebetulan aku bercerita tentang sesuatu yang lucu. Padahal aku juga ingin mendengarkan ceritamu. Tapi kau sangat jarang bercerita. Padahal aku juga ingin mendengarkan kisahmu seharian itu, melepas lelah bersamaku, sambil menikmati mentari kembali ke peraduannya. Tapi kau hanya lebih banyak diam, hanya mendengarkan ceritaku. Sesekali menerawang kosong. Hingga senja berakhir, selalu aku yang memulai dan mengakhiri pembicaraan. Lalu kemudian kau akan pamit pulang, karena maghrib menunggumu. Dan aku kembali merasa kesepian.</p>
<p style="text-align:justify;">Kau ingat waktu dulu? Di setiap senja, kita selalu memanjat atap rumahku. Menatap mentari kembali ke peraduan. Di senja itu pula, aku selalu bercerita tentang hidupku seharian itu. Hidupku yang selalu tentang dia, ia, dan dirinya. Tentang aku yang sedang dan terus jatuh cinta padanya. Aku menunggu reaksimu tiap kuceritakan hal tentang dia. Kau mungkin tak pernah tahu, mengapa aku selalu mengajakmu memanjat atap rumahku kala senja. Kuberitahu, itu hanya agar aku bisa bersamamu, menikmati hal yang paling aku gilai selain dirimu. Ya, aku mencintaimu, sejak pertama melihatmu saat kita masih menjadi mahasiswa baru di kampus. Kau mungkin tak pernah tahu, mengapa selalu dia, ia, dan dirinya yang selalu jadi bahan ceritaku setiap senja. Kini kuberitahu, itu hanya karena aku tak sanggup mengganti “dia” dengan “kamu” karena kutahu ada dia yang menunggumu di sana. Ya, aku mencintaimu, tapi kau sudah punya kekasih hati, yang walau terpisak jarak yang  jauh, aku tau kau sangat mencintainya. Ya, aku jatuh cinta padamu. Sahabat terbaikku. Aku bahkan saat menulis inipun, aku sedang dan terus mencintaimu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saat senja aku bisa merasa memilikimu. Bersamamu di atap rumahku, menatap mentari kembali ke peraduannya, adalah saat sakral untukku. Karena aku bisa bersama dua hal yang paling aku gila-gilai di muka bumi. Dan ketika senja berakhir, aku kembali pada kesepian yang membuatku hampir gila karena ditinggalkan kau dan senja.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari ini ulangtahunmu. Sudah setahun kau tidak menemaniku memanjat atap rumahku, menatap mentari kembali ke peraduannya. Kini aku sendiri, di atap rumahku. Cerita tentang dia sudah berakhir. Kini kau tau siapa dia, ia, dan dirinya yang sedang dan masih terus kucintai.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menunggu senja.. Duduk sendiri di atas atap rumahku. Memegang kamera poket yang selalu  kubawa ke manapun untuk mengabadikan senja. Hari ini cerah, semoga senja hari ini pun sempurna. Aku menyiapkan kameraku. Menunggu mencuri <em>moment</em> untuk mengabadikan senja di hari ulang tahunmu. Satu, dua, tiga.. Aku terus memotret senja. Mencari <em>view</em> dan <em>angle</em> terbaik untuk mengabadikan senja di hari istimewamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Senja berakhir. Sekarang aku punya kado untukmu.</p>
<p style="text-align:justify;"><img title="13184860261412991456" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/10/13184860261412991456.jpg" alt="13184860261412991456" width="419" height="420" /></p>
<p style="text-align:justify;">Selamat ulang tahun. Kali ini, aku mengirimimu senja dari atap rumahku. Senja yang hampir setiap hari kunikmati bersamamu. Tapi kali ini, aku menikmatinya sendiri. Semoga kau juga bisa menikmatinya lewat foto ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>ide note</em> dari <a href="http://berandarumahkoe.wordpress.com/">http://berandarumahkoe.wordpress.com/</a> tertanggal 26 Mei 2010</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Senja Biru</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kau ingat waktu dulu?</p>
<p style="text-align:justify;">di setiap senja, Kita selalu memanjat atap rumahmu,</p>
<p style="text-align:justify;">menatap mentari kembali ke peraduan,</p>
<p style="text-align:justify;">di senja itu pula kau selalu bercerita tentang hidupmu seharian itu,</p>
<p style="text-align:justify;">hidupmu yang selalu tentang dia, ia, dan dirinya</p>
<p style="text-align:justify;">tentang kau yang sedang dan terus jatuh cinta padanya</p>
<p style="text-align:justify;">#footnote</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/10/13/senja-untukmu/">Sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imamuddin.wordpress.com/1271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imamuddin.wordpress.com/1271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imamuddin.wordpress.com/1271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imamuddin.wordpress.com/1271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imamuddin.wordpress.com/1271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imamuddin.wordpress.com/1271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imamuddin.wordpress.com/1271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imamuddin.wordpress.com/1271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imamuddin.wordpress.com/1271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imamuddin.wordpress.com/1271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imamuddin.wordpress.com/1271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imamuddin.wordpress.com/1271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imamuddin.wordpress.com/1271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imamuddin.wordpress.com/1271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1271&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/senja-untukmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0afde5bde81137908f3da5336250d671?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imamuddin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/10/13184860261412991456.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">13184860261412991456</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pertemuan Terakhir</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/pertemuan-terakhir/</link>
		<comments>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/pertemuan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 16:05:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imamuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerita cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mengharukan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerita sedih]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[imamuddin baja]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cinta]]></category>
		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>
		<category><![CDATA[pertemuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imamuddin.wordpress.com/?p=1269</guid>
		<description><![CDATA[081802404086. Ada tanggal lahirku di nomormu. Sejak itu, aku percaya bahwa kamu takdirku. Hei, di antara berjuta nomor di negeri ini, aku berkenalan dengan seseorang dengan tanggal lahirku pada nomor ponselnya. Wajar kan jika kemudian aku menganggapmu takdirku? Skenario Tuhan bermain sempurna dalam pertemuan kita. Itu lima tahun lalu, dan lima tahun indah itu sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1269&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p>081802404086. Ada tanggal lahirku di nomormu. Sejak itu, aku percaya bahwa kamu takdirku. Hei, di antara berjuta nomor di negeri ini, aku berkenalan dengan seseorang dengan tanggal lahirku pada nomor ponselnya. Wajar kan jika kemudian aku menganggapmu takdirku? Skenario Tuhan bermain sempurna dalam pertemuan kita.</p>
<p>Itu lima tahun lalu, dan lima tahun indah itu sudah usai, usang, tak ingin kuulang..</p>
<p><em><span id="more-1269"></span>Back to reality then..</em></p>
<p>Bulan keduaku di kota ini, dan siapa sangka kisah usang itu kembali terulang. Dan oh wow.. Ternyata aku terjebak. Lebih parah, kamu kembali mengadiksiku seperti candu. Lebih parah lagi, wow.. Sekarang posisiku sudah terganti. Dari pacar menjadi mantan, kini aku turun kasta jadi selingkuhan. Ironis kronis, sekronis cinta yang masih kulihat jelas di matamu. Seironis cinta kita yang harus terhalang restu, kasta, dan hal remeh lainnya. Wow.. Kisah kita mewakili semua jenis alasan penyebab asmara kandas, atau memang itu hanya alasan yang dibuat-buat hanya karena kita lelah menapak bersama. Entahlah..</p>
<p>Aku tahu, kita masih saling cinta. Kata orang mata tak pernah berbohong. Well, kecupan hangatmu pun ternyata tak bisa bohong Sayang..</p>
<p>Kamu semakin mengadiksiku.. Di saat yang sama, kau sadar, ada dia di sana, yang percaya setiamu. Aku menggila, menuntut setiamu juga, lupa statusku yang kini turun kasta. Kau memilih dia, menghentikan semua kisah usang berulang kita. Sial! Aku sudah terlanjur teradiksi.. Tak peduli pada dia yang telah menyerahkan hati untukmu.</p>
<p>Berakhir, tapi kita tetap bertemu. Dan setiap pertemuan, kau menegaskan itu pertemuan terakhir. Terakhir tapi tak pernah berakhir. Aku menikmatinya..</p>
<p>“Bisakah kita bertemu?” Aku menyerah, kini harga diriku kandas sudah.</p>
<p>“Untuk apa? Hubungan kita sudah usai.. Lupakan aku takdirmu, Ney..”</p>
<p>Ah, kamu bahkan masih memanggilku dengan nama itu..</p>
<p>“Untuk pertemuan terakhir. Hanya itu,” ucapku, setengah berbohong.</p>
<p>“Pertemuan terakhir yang tak pernah berakhir maksudmu? Ney, tolong.. Kita sudah cukup saling menyiksa. Aku sudah punya dia. Tolong pahami aku..”</p>
<p>“Bee, kamu yang kembali  mengadiksiku. Aku sudah pernah terbiasa tanpamu. Aku hanya minta pertemuan terakhir. Kupastikan ini yang terakhir..”</p>
<p>“Baiklah, di kotamu atau kotaku?” Dia akhirnya menyerah.</p>
<p>Ah aku tahu, cinta itu masih ada.. Aku menang.. Hahahaaa..</p>
<p>“Kotamu. Besok aku ke sana.. See you.”</p>
<p>Pertemuan terakhir. Ucapku dalam hati. Semoga kali ini benar-benar berakhir. Aku lelah mencanduimu.</p>
<p align="center">***</p>
<p>“Hari ini, kamu milikku. Tolong lupakan dia sejenak.” Ucapku saat dia mengecup keningku. Sial, kecupannya masi sama!</p>
<p>“Baiklah Tuan Putri. Kamu mau ngapain aja satu hari ini? Apapun, demi kamu..”</p>
<p>“Milk tea, dan pelukan hangatmu sepertinya cukup..” Aku memeluknya. Lebih hangat dari biasanya.</p>
<p>“Baiklah, milk tea buatmu..”</p>
<p>Dia melajukan motornya kencang. Sore itu hujan. Dan milk tea favoritku mendadak susah dicari. Hujan makin deras. Aku tau dia menggigil kedinginan. Aku memeluknya, memakai jaketnya. Hangat..</p>
<p>“Sudahlah.. Milk tea-nya gak bakal ketemu. Kita uda  jalan ini menyusuri jalan ini berulang-ulang. Kita pulang saja..”</p>
<p>“Aku kenal kamu. Kalau milk tea-nya gak dapat, kamu pasti akan gelisah terus. Kita cari sampai ketemu ya..” Dia memegangi pipiku. Tangannya dingin. Aku tersenyum. Aku menang, pikirku.</p>
<p align="center">***</p>
<p><em>Bipbip..</em></p>
<p>Aku memegang ponselnya, sebatang Marlboro Menthol yang tinggal setengah kuisap dalam.</p>
<p><em>“Sayang, di sini hujan deras sejak kemaren. Aku kena flu ni gara-gara kena hujan semalam. Kamu baik-baik ya di sana. Aku sayang kamu..”</em></p>
<p>Pesan singkat dari wanitanya. Aku terdiam. Dia bergeming.</p>
<p>Segelas panas milk tea tersaji di mejaku. Aku tersenyum puas. Dia tersenyum melihatku, menggenggam erat tanganku. Basah kuyup. Menggigil kedinginan.</p>
<p>Ironis..</p>
<p>Satu, dua, tiga pesan singkat dari wanitanya. Read-delete. Aku tersenyum.</p>
<p>“Ini bukan kamu Ney,” ucapnya. Nada putus asa terdengar jelas dari suaranya.</p>
<p>“Atau ini mungkin memang aku yang sebenarnya?” Ucapku sambil memainkan ponselnya.</p>
<p>“Ikhlasin aku. Andai ada jalan supaya kita tetap bisa bersama, aku pasti <em>fight</em> buat kamu. Tapi lima tahun ini kita cuma berputar-putar di hubungan yang melelahkan. Aku lelah. Aku menyerah. Demi apapun Ney, aku sayang kamu. Aku sayang. Tapi kamu tahu kita gak bisa sama-sama. Terlalu banyak yang kita korbankan. Aku punya dia sekarang, dan aku ingin hubungan kami berhasil. Sudah cukup aku menuruti kemauanmu, Ney. Bukankah kamu sendiri yang memintaku mencari penggantimu?”</p>
<p>Sial. Pembicaraan ini lagi. Aku sudah bosan membahas hal ini berulang-ulang dengannya.</p>
<p>Sayup-sayup mengalun sebuah lagu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>…Percayalah kasih.. Cinta tak harus memiliki, walau kau dengannya.. Namun ku yakin hatimu untukku..</em></p>
<p>“Yaa.. Bahkan Ecoutez pun menyuruhku menyerah.” Tangisku tumpah.</p>
<p>Dia menggenggam tanganku erat.</p>
<p><em>Krrriiiinnnggg…</em></p>
<p>Ponselnya berbunyi. Siapa lagi kalau bukan wanitanya.</p>
<p>“Boleh kuangkat, Ney?” Dia meminta izinku.</p>
<p>“Angkatlah.. ” Aku menyerah..</p>
<p>“…iya, nanti aku telepon kamu lagi. Sinyalnya jelek di sini.. Iya, aku juga sayang kamu..”</p>
<p>Kalimat terakhir dia ucapkan pelan. Sambil menggenggam tanganku semakin erat, menatapku dalam. Aku masih melihat cinta itu.</p>
<p>Lagi-lagi ironis..</p>
<p>Aku cuma bisa diam.</p>
<p>Bingung.</p>
<p>“Baiklah. Hari ini sudah berakhir. Aku janji ini yang terakhir, sebelum karma mengejarku,” ucapku dalam hati.</p>
<p>“Ney.. Tolong ikhlasin aku ya..” Kali ini suaranya terdengar memohon.</p>
<p>“Iya,” ucapku, tentu saja berbohong, sambil tersenyum.</p>
<p>Hujan sudah berhenti. Aku memakaikan jaketnya. Dia mengantarku ke stasiun. Udara dingin sisa hujan menusuk kulitku. Sambil menunggu kereta, kami berdua berdiri di sudut stasiun. Stasiun padat malam itu. Bangku di lorong tidak tersisa. Diam. Aku terlalu lelah untuk kembali berargumen. Aku hanya memainkan ponselnya. Melihat foto wanitanya yang dipajang sebagai <em>wallpaper</em>. Dia tiba-tiba memelukku. Erat. Sangat erat.</p>
<p>“Pelukan terakhir kan, Ney? Kebetulan, aku sangat kedinginan.”</p>
<p>Air mataku kembali tumpah. Aku membalas pelukannya. Aku memeluknya seerat yang aku bisa. Dan kami berdua kemudian hanya diam. Berpelukan. Itu pelukan paling hangat dan nyaman yang pernah aku rasakan.</p>
<p><em>Bipbip..</em></p>
<p>Ponselnya yang masih kupegang kembali berbunyi.</p>
<p>“Sudah biarkan saja.” Ucapnya masih dalam pelukanku.</p>
<p>Aku membuka ponselnya. Penasaran..</p>
<p><em>“Sayang.. Di sini dingin banget.. Semoga Tuhan selalu bersamamu dan memberimu kehangatan di sana. I love you..”</em></p>
<p>..delete..</p>
<p>Aku mempererat pelukanku. Berjanji, ini pelukan terakhir.</p>
<p>“Aku pulang. Terima kasih buat hari ini. Janji, ini pertemuan terakhir dan berakhir di sini. Jaga dia baik-baik ya,” aku melepas pelukanku akhirnya. Berbalik pergi, dan tidak menoleh lagi. Sekuat tenaga kutahan air mata yang mendesak ingin tumpah.</p>
<p>“Ini yang terakhir,” sekali lagi kuyakinkan hati.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Di dalam kereta. Aku cuma bisa diam. Aku membuka <em>twitter</em> dari ponselku.</p>
<p><em>@littlestar: Let Karma take care of you, bitch! </em></p>
<p><em>Tweet</em> pertama yang aku baca menyentakku. Aku langsung menutupnya dan mencoba tidur.</p>
<p>Hari ini cukup berat, dan aku terlalu lelah untuk berpikir tentang apapun. Aku hanya tahu, ini kesalahan.</p>
<p align="center">***</p>
<p><em>Lima bulan kemudian.</em></p>
<p>Hari ini ulang tahunnya. Pertemuan terakhir hari itu benar-benar jadi yang terakhir.</p>
<p>Hari ini ulang tahunnya. Setelah berpikir berulang kali, aku memutuskan untuk mengirim sebuah pesan singkat.</p>
<p><em>“Hei DJ.. Selamat ulang tahun. Seperempat abad usiamu. Semoga bahagia selalu bersamamu.. Doaku, yang terbaik untukmu  <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1304370266g" alt=":)" /> “</em></p>
<p>Aku tak menanti balasan. Tak mungkin berbalas.</p>
<p><em>Bipbip..</em></p>
<p>Aku hampir terlelap saat sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari dia. Aku tak menyangka dia akan membalas.</p>
<p><em>“Saat kau khusyuk mengucap doa untuknya di sana, di sini aku sedang memeluknya, mengucap doa tepat di telinganya. Dan dia menatapku, mengamini setiap doaku.. – Diah”</em></p>
<p>Mataku mendadak terasa hangat.</p>
<p><em>Anggi Zoraya, Agustus 2011</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/10/13/pertemuan-terakhir/">Sumber</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imamuddin.wordpress.com/1269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imamuddin.wordpress.com/1269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imamuddin.wordpress.com/1269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imamuddin.wordpress.com/1269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imamuddin.wordpress.com/1269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imamuddin.wordpress.com/1269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imamuddin.wordpress.com/1269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imamuddin.wordpress.com/1269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imamuddin.wordpress.com/1269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imamuddin.wordpress.com/1269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imamuddin.wordpress.com/1269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imamuddin.wordpress.com/1269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imamuddin.wordpress.com/1269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imamuddin.wordpress.com/1269/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1269&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/pertemuan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0afde5bde81137908f3da5336250d671?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imamuddin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1304370266g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimpi Terakhir</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/mimpi-terakhir/</link>
		<comments>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/mimpi-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 16:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imamuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen remaja]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[kerinduan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah remaja]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>
		<category><![CDATA[tentang mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imamuddin.wordpress.com/?p=1267</guid>
		<description><![CDATA[Aku tak pernah tahu arti mimpi. Sebagian bilang, itu hanya bunga tidur. Sebagian lagi mengatakan, itu refleksi alam bawah sadar. Ada juga yang menyatakan mimpi adalah obsesi, firasat, pertanda, dan masih banyak definisi lain. Aku memilih meyakini yang terakhir. Mimpi adalah pertanda. Setidaknya, jika itu tentangmu. Jika aku bermimpi tentangmu. Subjektif memang. *** Lima tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1267&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p>Aku tak pernah tahu arti mimpi. Sebagian bilang, itu hanya bunga tidur. Sebagian lagi mengatakan, itu refleksi alam bawah sadar. Ada juga yang menyatakan mimpi adalah obsesi, firasat, pertanda, dan masih banyak definisi lain. Aku memilih meyakini yang terakhir. Mimpi adalah pertanda. Setidaknya, jika itu tentangmu. Jika aku bermimpi tentangmu. Subjektif memang.</p>
<p>***</p>
<p><em><span id="more-1267"></span>Lima tahun lalu..</em></p>
<p>Seminggu sudah kita tak berkomunikasi. Salahkan tarif seluler yang masih melangit. Mahal. Salahkan jarak yang membentang terlalu luas. Jauh. Sedang kita berdua hanya mahasiswa miskin pulsa. Aku selalu berharap bertemu denganmu lewat mimpi, atau isyarat apapun. Entah karena aku yang terlalu mempercayai kebetulan, atau memang hati kita yang terikat sangat kuat saat itu, pertanda itu memang nyata adanya. Malam itu aku bermimpi. Aku melihatmu berjalan kebingungan tak tentu arah, memegang kunci yang kuduga kunci motormu. Aku tersentak. Belum sempat aku meneleponmu, tiba-tiba pesan masuk di ponselku.</p>
<p>“Ney, aku kena musibah. Motorku hilang tadi sore.. Doakan dapat ganti yang lebih baik ya.. <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif?m=1308949884g" alt=":(" /> “</p>
<p>Aku cuma bisa terduduk lemas membaca pesan singkatmu.</p>
<p>“Aku barusan mimpiin kamu lagi kebingungan megang kunci motor. Kok mimpiku bener sih? <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif?m=1308949884g" alt=":(" /> “</p>
<p>“Itu artinya pertanda. Mulai sekarang, ingat-ingat mimpi kamu <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308949884g" alt=":)" /> Terutama tentang aku. Mungkin saja ada pertanda dalam mimpimu, Sayang..”</p>
<p>Sejak saat itu, setiap mimpi tentangmu akan kukekalkan. Kutulis di sebuah buku. Di malam yang lain, terutama saat kita sama-sama kehabisan pulsa sebagai amunisi komunikasi, aku kembali memimpikanmu. Di mimpiku, kamu sedang meneleponku, menyanyikan sebait lagu Jauh dari Naif. Ya, lagu-lagu Naif memang jadi <em>soundtrack</em> kisah kita berdua. Dua hari kemudian, aku meneleponmu, dan nada sambung yang kudengar adalah lagu Jauh.</p>
<p>“Aku kangen.. Kamu jauh. Aku sampe masang nada sambung Jauh saking kangennya..”</p>
<p>Itu kalimat yang pertama kudengar, saat kau mengangkat teleponku. Tersenyum mengingat mimpiku. Heran bagaimana bisa sebait mimpi bisa seajaib itu.</p>
<p>***</p>
<p><em>Tiga tahun yang lalu..</em></p>
<p>Hubungan kita tak selalu baik. Kita sempat <em>break</em>, dan lagi-lagi kehilangan komunikasi karena emosi. Aku pikir ikatan hati kita mulai memudar. Aku semakin jarang memimpikanmu, dan gengsi bertanya kabarmu. Entah karena rindu memuncak, atau memang semesta ingin mengabarkan tentangmu, di suatu malam, aku kembali bermimpi. Dalam mimpiku, kita berada di suatu tempat, aku pun tak tahu di mana. Aku duduk sendiri, dan kamu melihatku dari kejauhan. Aku ingin memanggilmu, tapi belum sempat melakukannya, aku melihat sosok wanita lain mendekatimu. Kau menggengam tangannya, melihatku sebentar, lalu pergi bersama wanita itu.</p>
<p>Aku terbangun, terkejut. Pertanda apa itu!</p>
<p>Aku menghubungi sahabatmu, dan darinya aku tahu, kau sedang dekat dengan seorang wanita. Hatiku hancur. Kukorbankan rasa gengsi untuk menghubungimu.</p>
<p>“Dari mana kamu tau Ney? Aku memang dekat dengan Tari, tapi bukan seperti yang kamu bayangkan.. Uhmm.. Oke, mungkin lebih dekat dari sekedar teman..”</p>
<p>Sial!! Kita <em>break</em> demi yang kausebut introspeksi, dan sekarang kau malah intim dengan wanita lain. Aku terbakar.</p>
<p>“Sayang, kau yang selalu bilang, aku harus ingat mimpiku, dan jika tentang kamu, mungkin itu firasat. Kali ini pun, mimpiku benar..”</p>
<p>“Aku minta maaf.. Mengkhianatimu sepertinya memang kesalahan besar..”</p>
<p>“Berhenti menghubunginya, dan kembali introspeksi dirimu, jika memang ingin tetap bersamaku!” Ucapku akhirnya..</p>
<p>***</p>
<p><em>Dua tahun yang lalu..</em></p>
<p>Lagi, lagi, dan lagi aku kembali memimpikanmu. Hubungan kita memburuk kali ini. Padahal kita sudah tinggal di kota yang sama. Jarak dan tarif seluler sudah bukan lagi masalah. Aku tahu, kau sudah lelah berjuang. Sudah lama sejak mimpiku yang terakhir menjadi pertanda tentangmu, tentang kita. Sudah hampir sebulan sejak komunikasi kita yang terakhir, dan berakhir dengan pertengkaran. Suatu malam, aku kembali bermimpi tentangmu. Dalam mimpiku, kita berdua duduk di taman. Kau menggenggam erat tanganku, tapi wajahmu tampak sangat murung. Aku sempat bertanya tentang cincin yang tidak lagi melingkar di jarimu. Tiba-tiba, kamu berdiri dan pergi begitu saja. Ya, begitu saja.</p>
<p>Seharian aku memikirkan maksud dari mimpi itu. Yang kuterima kemudian adalah pesan singkat darimu:</p>
<p>“Ney, bisa bertemu sore ini? Aku rasa sudah saatnya kita bicara. Serius. Tentang kita..”</p>
<p>Percakapan sore itu berlangsung panjang. Aku, kamu sepakat mengakhiri hubungan yang sudah terjalin empat tahun. Hatiku hancur. Dalam hati aku berharap, tak pernah ada lagi mimpi tentangmu. Aku benci pertanda!</p>
<p>***</p>
<p><em>Setahun yang lalu..</em></p>
<p>Setahun berpisah denganmu. Setahun menguatkan hati mengakui kau bukan lagi milikku. Setahun dan tak sekali pun aku memimpikanmu lagi. Bahkan aku hampir melupakanmu karena kehadirannya. Dan tak disangka, aku lagi-lagi bermimpi tentangmu. Mimpi yang sangat singkat. Kau berada di ruang serba putih, berulang kali memanggil namaku.</p>
<p>Begitu bangun, aku beranikan diri mengirim sebuah pesan singkat. Antara penasaran pada mimpi, dan ingin tahu kabarmu.</p>
<p>“Ndra, tadi malam aku kembali memimpikanmu. Apa semua baik-baik saja? Kamu sehat kan? Maaf jika sms-ku mengganggu..”</p>
<p>“Aku sakit. Hepatitis B,  sudah sebulan <em>bedrest</em>. Sekarang uda baikan kok <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308949884g" alt=":)" /> Gak nyangka mimpi kamu masih aja ngasih pertanda, tentang aku.. Wish you were here, Ney..”</p>
<p>Deg!!</p>
<p>Pertanda, atau memang ikatan hati itu yang belum putus? Segera aku menemuinya hari itu juga, dan yang kutemukan adalah mantan kekasihku yang tergolek lemah di tempat tidurnya..</p>
<p>Aku mulai takut bermimpi..</p>
<p>***</p>
<p><em>Tadi malam..</em></p>
<p>Aku kira episode tentangmu telah usai. Aku kira setelah pertemuan terakhir itu, semua episode tentangmu sudah berakhir. Aku sudah mengikhlaskan semuanya, seperti yang kau minta. Sudah enam bulan sejak pertemuan terakhir di kotamu, dan sudah tiga malam berturut-turut aku memimpikanmu. Kata orang, jika memimpikan seseorang tiga kali berturut-turut, maka dia jodohmu. Yang lain mengatakan, jika kau memimpikan seseorang, bisa jadi, di sana dia sedang merindukanmu. Aku hampir percaya pada mitos tentang mimpi itu. Bodoh memang.</p>
<p>Dalam mimpiku, kita berdua asyik bercengkrama, tertawa bersama, tapi kau selalu tiba-tiba menghilang, setelah kau mencium lembut keningku. Tak ada tanda perpisahan. Aku bahkan masih melihat cinta di matamu. Tiga hari aku bermimpi yang sama. Aku semakin penasaran pada mimpi. Pertanda apa lagi kali ini. Tapi aku tak berani menghubungimu. Tidak, sejak pertemuan kita yang terakhir. Dalam hati aku masih berharap, mimpiku adalah pertanda kau merindukanku. Ya, aku terlalu optimis.</p>
<p>Siang ini, sepulang dari kampus, aku menemukan paket surat di depan pintu kamarku. Ada nama dan alamatmu di amplopnya. Kubuka amplop itu dan mulai melihat isinya.</p>
<p><em>The Wedding</em>, kata pertama yang kulihat. Tahulah aku bahwa kertas biru bertinta emas itu sebuah undangan. Aku membacanya, ada namamu dan Diah disana. Pernikahan kalian berlangsung dua minggu dari sekarang.</p>
<p>Kuberanikan diri mengirim pesan singkat,</p>
<p>“Aku sudah terima undanganmu. Sekarang aku tau maksud mimpiku berhari-hari ini. Kali ini, pertandanya salah. Selamat ya.. <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308949884g" alt=":)" /> “</p>
<p>“Emang kamu mimpiin aku lagi? Tentang apa?”</p>
<p>“Sudah tidak penting.. <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308949884g" alt=":)" /> “</p>
<p>Mungkin kali ini aku yang terlalu merindukanmu.</p>
<p>***</p>
<p>PS: Pernah baca, ada satu <em>tweet</em> berbunyi, “Jika kamu mulai sering memimpikan mantan dalam tidurmu, bukan, bukan karena dia sedang merindukanmu, tapi karena kau semakin hilang dari hatinya<em>.”</em></p>
<p><em>Anggi Zoraya, Agustus 2011</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/10/13/mimpi-terakhir/">Sumber</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imamuddin.wordpress.com/1267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imamuddin.wordpress.com/1267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imamuddin.wordpress.com/1267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imamuddin.wordpress.com/1267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imamuddin.wordpress.com/1267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imamuddin.wordpress.com/1267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imamuddin.wordpress.com/1267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imamuddin.wordpress.com/1267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imamuddin.wordpress.com/1267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imamuddin.wordpress.com/1267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imamuddin.wordpress.com/1267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imamuddin.wordpress.com/1267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imamuddin.wordpress.com/1267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imamuddin.wordpress.com/1267/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1267&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/mimpi-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0afde5bde81137908f3da5336250d671?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imamuddin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif?m=1308949884g" medium="image">
			<media:title type="html">:(</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif?m=1308949884g" medium="image">
			<media:title type="html">:(</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308949884g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308949884g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308949884g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308949884g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peluk</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/peluk/</link>
		<comments>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/peluk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 15:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imamuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cerita remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kisah remaja]]></category>
		<category><![CDATA[peluk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imamuddin.wordpress.com/?p=1264</guid>
		<description><![CDATA[“Boleh cium pipi?” Karin, wanita dihadapanku, hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Aku sudah menduga. “Boleh peluk? Mungkin saja ini pertemuan kita yang terakhir..” Dia masi tersenyum, kali ini makin lebar. Aku mulai salah tingkah. “Baiklah..” Ruang tunggu bandara ini mendadak terasa penat. Jeda ini menyesakkan. Aku memandang perempuan dihadapanku. Dua tahun aku menunggunya. Dan dua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1264&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p>“Boleh cium pipi?”<br />
Karin, wanita dihadapanku, hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Aku sudah menduga.</p>
<p>“Boleh peluk? Mungkin saja<br />
ini pertemuan kita yang terakhir..”<br />
Dia masi tersenyum, kali ini makin lebar. Aku mulai salah tingkah.</p>
<p><span id="more-1264"></span>“Baiklah..”<br />
Ruang tunggu bandara ini mendadak terasa penat. Jeda ini menyesakkan. Aku memandang perempuan dihadapanku. Dua tahun aku menunggunya. Dan dua tahun pula dia selalu diam. Kini aku hanya ingin memeluknya. Tak lebih dari itu. Mengekalkan apa yang aku rasa disepersekian detik sebelum dia kembali ke kotanya.</p>
<p>“Aku takut, ketika kau<br />
memelukku, aku bisa merasakan<br />
apa yang ada dihatimu.. “<br />
Dia akhirnya membuka suara.pelan.</p>
<p>“Lalu kenapa? “<br />
“Aku takut rasa itu menulariku dan membuatku terjatuh juga..”<br />
“Kau takut jatuh cinta padaku? Seperti yang selama ini kau tau pasti aku rasakan?”<br />
“Mungkin begitu.. “<br />
Kali ini dia menunduk, aku tak bisa menatap matanya.</p>
<p>” Jangan takut. Kalau kau takut, kau justru akan semakin gampang jatuh. Kau lucu.. “</p>
<p>“Masalahnya, peganganku sudah tak sekuat dulu, dan aku hampir jatuh.. “</p>
<p>” Aku tak pernah tau tentang itu.. “<br />
Aku merasakan keraguannya. Ntah kenapa, aku malah melihat peluang kecil. Dia lalu melanjutkan,</p>
<p>” jatuh itu rasanya tak pernah enak. Pasti sakit. Aku pernah jatuh, dan kali ini aku tidak ingin jatuh lagi. “</p>
<p>” Kau harus benar- benar jatuh untuk tahu kalo ini samasekali tidak sakit.. Aku bisa pastikan itu..”<br />
Ya.. Kini aku sudah mirip sales menawarkan dagangan bermerk cinta.<br />
“darimana kau tau ini tidak akan sakit?”<br />
Kini dia menatapku, mencari jawaban. Aku tersenyum,<br />
“Biarkan aku memelukmu, rasakan yang ada dihatiku, dan jatuhlah bersamaku. Kau akan tau rasanya..”<br />
..<br />
…<br />
Sial.. Jeda lagi. Sepertinya aku salah ucap. Jangan- jangan sekarang dia menganggapku penggombal yang sedang mencari-cari kesempatan. Kunyalakan rokokku,berharap asapnya mampu mengisi keheningan.</p>
<p>“Boleh peluk?”<br />
..<br />
…<br />
Aku pasti bermimpi. Aku melihat matanya, dan ya.. Aku melihat kesungguhan itu.. Aku benar-benar melihatnya..<br />
“Kau siap jatuh bersamaku?”</p>
<p>“Sepertinya jatuh lebih baik<br />
daripada terus berjalan di setapak datar.. “</p>
<p>“Bersamaku, kau tidak akan<br />
pernah terjatuh hingga<br />
merasakan sakit. Aku akan selalu<br />
menangkapmu. Aku janji.. “</p>
<p>“Ya.. Karena kali ini aku tidak ingin terluka lagi. Jatuh cinta tak harus selalu berakhir patah hati,kan?<br />
Kali ini dia menatapku, kurasa mencari kesungguhan yang sama. Mata kami beradu,</p>
<p>” Tidak jika denganku. Aku hanya akan membuatmu jatuh berkali-kali.<br />
Dan kupastikan, kau akan menikmati sensasinya.. “</p>
<p>Aku lalu menariknya ke dalam pelukanku. Dua tahun aku menunggunya. Dan satu pelukan ini adalah usaha terakhirku. Berharap dia merasakan yang selama ini kurasakan.<br />
..<br />
…<br />
..<br />
…<br />
“Mengapa tidak pernah<br />
memberitahu rasanya seperti ini?”</p>
<p>“Karena kau tak pernah<br />
mengizinkanku..”<br />
..<br />
…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/10/13/peluk/">Sumber</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imamuddin.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imamuddin.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imamuddin.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imamuddin.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imamuddin.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imamuddin.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imamuddin.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imamuddin.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imamuddin.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imamuddin.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imamuddin.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imamuddin.wordpress.com/1264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imamuddin.wordpress.com/1264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imamuddin.wordpress.com/1264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1264&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/peluk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0afde5bde81137908f3da5336250d671?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imamuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Pulang</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/jalan-pulang/</link>
		<comments>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/jalan-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 15:48:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imamuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen remaja]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah remaja]]></category>
		<category><![CDATA[masa remaja]]></category>
		<category><![CDATA[pertemuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imamuddin.wordpress.com/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Kita bertemu lagi. Sudah empat tahun sejak pertemuan kita yang terakhir. Kita bertemu di tempat yang sama, tempat dahulu kita memiliki ritual sakral setiap minggu. Dua orang yang bukan siapa-siapa, berdua, menikmati secangkir kopi panas, dan mendengarkan ceritamu. Kau masi mempesona seperti dulu. Empat tahun berpisah, kau tampak semakin matang sekarang. Pesananmu masih sama, secangkir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1262&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Kita bertemu lagi. Sudah empat tahun sejak pertemuan kita yang terakhir. Kita bertemu di tempat yang sama, tempat dahulu kita memiliki ritual sakral setiap minggu. Dua orang yang bukan siapa-siapa, berdua, menikmati secangkir kopi panas, dan mendengarkan ceritamu. Kau masi mempesona seperti dulu. Empat tahun berpisah, kau tampak semakin matang sekarang.</p>
<p><span id="more-1262"></span>Pesananmu masih sama, secangkir <em>caramel latte</em>, dua sendok gula, tidak pernah berubah. Aku sudah siap dengan ritual yang dulu selalu kulakukan, tiap pergi ke manapun denganmu. Aku akan mempersilakanmu memilih tempat duduk terlebih dahulu, karena tempat ini atau di manapun adalah etalase bagimu. Maka tempat duduk menjadi penting buatmu. Letaknya harus strategis, agar kau bisa dengan leluasa menikmati makhluk-makhluk indah yang datang silih berganti. Makhluk indah yang sama-sama kita nikmati. Ya, kita memiliki definisi yang sama tentang makhluk indah. Padahal kita berdua berbeda.</p>
<p>Malam ini ternyata berbeda dari biasanya. Pesananmu masih sama. Namun kali ini kau mempersilakanku duduk terlebih dahulu. Padahal aku sudah siap mencarikan bangku strategis buatmu. Secangkir <em>caramel latte</em> favoritmu, dan <em>vanilla latte</em> kesukaanku sudah tersaji di meja. Kau hanya mengaduk-aduk <em>latte</em>-mu, tidak lagi menikmati etalase di hadapanmu. Padahal ini malam minggu, dan tempat ini lebih ramai dari hari-hari biasanya. Seharusnya kau bisa puas menikmati pemandangan di hadapan kita, seperti yang dulu selalu kita lakukan.</p>
<p>Sepuluh menit. <em>Dead air</em>. Kau masih diam saja. Aku bingung memulai pembicaraan. Dari dulu pun memang tidak pernah aku yang memulai pembicaraan. Aku selalu menunggu sampai kau membuka suara.</p>
<p>“Jadi.. Apa yang terjadi empat tahun ini? <em>How’s life</em>?” Tanyaku akhirnya.</p>
<p>“Aku baik. Kau? Kerjaan lancar? Kudengar kau akhirnya bisa kerja di perusahaan idamanmu dulu.” Dia tersenyum, menatapku. Sepertinya kita siap memulai reuni ini.</p>
<p>“Alhamdulillah. Setelah mencoba bekerja di sana-sini, akhirnya aku dilirik juga oleh perusahaan itu. Hei, kau belum menjawabku!”</p>
<p>“Empat tahun berlalu sangat cepat ya. Apa kau masih ingat pertemuan kita yang terakhir? Pertemuan terakhir kita gak baik, bukan?” Ucapnya sambil menyesap pelan <em>caramel latte</em> yang kuyakin sudah mulai dingin.</p>
<p>“Ternyata kau masih ingat? Apa karena itu sekarang kau mengajakku bertemu? Apa kali ini kau juga datang dengan pembelaan diri yang sama?” Kuatur nada suaraku serendah mungkin.</p>
<p>“Oh, ternyata masih marah? Aku kira kau sudah lupa. Sepertinya aku salah ngajak ketemuan sekarang..” Dia tersenyum, mencubit hidungku.</p>
<p>Sial.. Senyumnya makin manis. Aku urungkan niat untuk marah. Biarlah reuni kali ini berjalan baik, lancar, dan semoga tak berakhir dengan putus silaturahim, seperti empat tahun lalu.</p>
<p>“Kita sudah sepakat untuk tidak sepakat tentang yang satu itu. Aku tak tau apa sekarang kau sudah memilih biru atau pelangi, atau masih memilih abu-abu. Aku tak tau, apa kau masih mencari jalan pulang. Sudah bukan urusanku. Dari dulu pun seharusnya tak pernah jadi urusanku,” aku membalas senyumannya. Harusnya dia paham, senyumku palsu.</p>
<p>***</p>
<p>Empat setengah tahun lalu..</p>
<p>Di tempat ini, dengan pesanan yang sama. Kau sangat menikmati pemandangan di sekitarmu, sementara aku hanya menikmatimu, yang menurutku lebih indah dari sosok manapun di ruangan itu. Kita sudah sering terlibat pembicaraan serius tentangmu. Tentang dunia yang kini kau pilih, dan tentang keinginanmu untuk berubah. Dua hal kontras. Dan setelah berkali-kali buntu, malam itu aku akhirnya memberanikan diri bertanya.</p>
<p>“Jadi, apa kau sudah memilih?”</p>
<p>“Memilih apa? Aku menikmati hidupku sekarang. Aku merasa, ini dunia yang harusnya sudah aku masuki dari dulu.”</p>
<p>“Maksudmu, menikmati nafsu dan setelah itu nangis-nangis di hadapanku, saat dia dan yang lain meninggalkanmu, lalu kau segera ingin pulang? Tapi tiap bertemu dengan pria lain lagi, semua terulang lagi. Terus-menerus. Yang mana yang kau nikmati?”</p>
<p>Aku sudah tak bisa berbasa-basi. Aku bosan dengan segala kelakuanmu. Mencintai, tahu kalo cintamu terlarang, menikmati nafsu, dan setelahnya akan menyesal ingin kembali pulang, tapi tak pernah kaulakukan. Semua cuma wacana. Kau tetap dengan pola yang sama, dan aku mulai muak.</p>
<p>” Mungkin ini memang takdirku,” jawabmu kala itu.</p>
<p>” Tapi kau punya kuasa mengubah takdir. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga dia mengubah nasibnya sendiri,” aku mulai berargumen.</p>
<p>Mendadak kulihat kau terdiam. Memainkan sendok di cangkirmu.</p>
<p>“Kenapa terdiam?” Tanyaku.</p>
<p>“Kau benar. Tapi aku masih menikmati saat ini. Menikmati makhluk-makhluk indah ini. Sekarang, ini duniaku.”</p>
<p>” Baiklah aku menyerah..” Pelan aku berucap. Aku sudah tahu, pada akhirnya aku harus menyerah dan harus mengerti. Aku menarik nafas, panjang. Mulai menduga malam ini akan berakhir sama.</p>
<p>“Silakan nikmati saat ini. Tapi kau harus tetap ingat. Akan ada saat di mana kau harus pulang dan memilih harus tinggal di mana. Sejak hari ini, aku akan coba mengerti pilihanmu,” kalimat terakhirku, jadi penutup percakapan malam itu.</p>
<p>“Iya, aku tau..”</p>
<p>Kami berdua kemudian diam..</p>
<p>Setelah percakapan itu, aku harus kembali melihatnya dengan pola yang sama. Menjalin cinta terlarang, dan setiap dia patah hati, dia akan datang dengan air mata padaku, meminta solusi dicarikan jalan pulang, tapi tak pernah dia lakukan. Terakhir, dia menyalahkanku yang katanya menjadi pemicu dia masuk ke dunianya sekarang.</p>
<p>Sungguh terlalu.</p>
<p>***</p>
<p>Empat tahun lalu..</p>
<p>Kali ini aku yang mengajaknya bertemu. Dan kali ini aku sampai pada titik muak dengan segala kelakuan, segala wacananya. Di tempat yang sama. Kali ini tak ada basa-basi.</p>
<p>“Dit, maaf.. Tapi aku sudah muak dengan segala kelakuan dan wacanamu yang ingin berubah. Semua saranku yang kau minta sia-sia. Aku rasa, sebaiknya aku pergi, kita tidak usah bertemu lagi. Cari saja orang lain yang mau mendengarkan masalah dan keluh-kesahmu. Aku muak. Aku yakin Tuhan lebih muak padamu,” aku bicara tegas. Tak peduli lagi dengan dia yang sialnya tampak santai saja.</p>
<p>“Baiklah, kalau memang kau maunya begitu. Aku tidak akan memaksa,” dia menjawab dengan nada datar.</p>
<p>“Oke. Aku pulang sekarang. Silakan nikmati hidupmu. Tak perlu pulang jika memang tak ingin pulang. Dan tak perlu memilih abu-abu jika kau memang menikmati indahnya pelangi, di duniamu sekarang.”</p>
<p>“Someday, aku tetap akan pulang kok.” Dia menunduk, berkata pelan.</p>
<p>“Ah semoga. Aku sih tak terlalu yakin. Yang jelas aku sudah muak dengan semuanya tentangmu. Maaf..”</p>
<p>” Gak apa-apa. Semoga saat kita ketemu lagi, aku sudah menemukan jalan pulang. Dan saat itu, kau orang pertama yang akan aku temui. Aku janji.”</p>
<p>“Kau laki-laki. Dan laki-laki itu dinilai dari kesanggupannya menepati janji,” aku ragu.</p>
<p>“I will.”</p>
<p>“I’ll wait..”</p>
<p>Setelah malam itu, aku tak pernah bertemu dengannya lagi.</p>
<p>***</p>
<p>Secangkir <em>vanilla latte</em>-ku sudah habis. Kami masih lebih banyak diam. Aku memesan cangkir ke-2. Aku seperti berhadapan dengan orang asing.</p>
<p>“Kamu benar, Na.. Suatu saat aku harus pulang dan memilih tinggal di mana,” kali ini dia memulai percakapan. Sambil tersenyum.</p>
<p>“Lalu?”</p>
<p>“Empat tahun aku mencari jalan pulang. Ternyata susah. Aku sudah lupa dunia seperti apa yang dulu aku jalani, saat aku pertama lahir ke dunia.”</p>
<p>Aku hanya diam saja. Belum mengerti percakapan ini akan berakhir seperti apa. Aku cuma tidak mau berakhir dengan pertengkaran.</p>
<p>“Aku hampir saja mencari rumah di duniaku sekarang, sampai akhirnya aku sadar, bahwa aku bukan hanya hidup untuk diriku sendiri, aku bukan hidup hanya untuk masa ini, dan kurasa, ini bukan takdirku.”</p>
<p>Aku mulai menatapnya, ingin tahu apalagi yang ingin dia katakan.</p>
<p>“Akan ada masa di mana aku harus mempertanggungjawabkan hidupku pada orang tuaku. Lebih dari itu, pada Tuhanku. Dan saat itu aku sadar, aku tidak bisa hidup di duniaku sekarang untuk selamanya. Seenak-enaknya tinggal di <em>penthouse</em> hotel termewah sekalipun, tetap saja aku harus pulang ke rumah. Empat tahun aku mencari jalan pulang itu. Empat tahun aku jatuh bangun, Na.. Mungkin dulu kau benar. Yang kunikmati itu nafsu. Nafsu yang diberikan Tuhan sebagai cobaan untukku. Kalau aku bisa melewati cobaan ini, Tuhan pasti membalas kan? Itu yang aku camkan dalam perjalananku mencari jalan pulang.”</p>
<p>Aku masi mencerna setiap kata-katanya. Sambil sesekali menatapnya dan meneguk <em>vanilla latte</em> cangkir keduaku.</p>
<p>“Ternyata, aku masih butuh keluarga. Masih butuh Tuhan. Dan aku makin tersesat di duniaku yang itu. Aku lalu mulai melihat ke belakang, mencari-cari di jalan mana aku dulu tersesat. Aku mulai berdamai dengan masa laluku. Memaafkan ayahku atas kealpaannya di masa kecilku. Aku semakin sering menghadap Tuhan. Karena aku tau, cuma Dia yang bisa membantuku pulang.”</p>
<p>“Lalu, apa kau akhirnya menemukan jalan pulang? Apa kau sudah siap untuk pulang?”</p>
<p>Kali ini dia tersenyum. Mengambil sesuatu dari dalam tasnya, meletakkannya di meja, tepat di hadapanku.</p>
<p>“Bukalah,” ujarnya.</p>
<p>The Wedding, kalimat pertama yang kulihat. Aku tahu itu sebuah undangan. Undangan pernikahan tepatnya. Aku membuka undangan biru itu.</p>
<p>Aditya Herlambang dan Firania Rahman</p>
<p>“Aku mengenalnya 2 tahun lalu. Saat aku limbung mencari jalan pulang. Dia tau kondisiku, bahkan membantuku untuk keluar dari duniaku sekarang. Aku memutuskan untuk melamarnya. Mungkin jalan pulangku masih jauh. Tapi yang pasti, aku sudah punya rumah sekarang. Doakan aku. Aku sudah keluar dari dunia yang dulu kaubenci. Aku sudah menemukan jalan pulang dan sedang menuju rumahku, Na..”</p>
<p>Tak sadar, aku menangis. Aku langsung berdiri, memeluknya.</p>
<p>“Perjalananmu akan segera berakhir, Dit.. Welcome back home..”</p>
<p>“Tidak marah lagi sekarang? Aku menepati janjiku bukan?” Dia kembali tersenyum.</p>
<p>Menggodaku.</p>
<p>“Terima kasih karena telah menepati janji, Dit. Ini kabar terbaik untukku dalam empat tahun ini..” Aku masih menangis. Kali ini karena bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Anggi Zoraya, September 2011</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/10/13/jalan-pulang/">Sumber</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imamuddin.wordpress.com/1262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imamuddin.wordpress.com/1262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imamuddin.wordpress.com/1262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imamuddin.wordpress.com/1262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imamuddin.wordpress.com/1262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imamuddin.wordpress.com/1262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imamuddin.wordpress.com/1262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imamuddin.wordpress.com/1262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imamuddin.wordpress.com/1262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imamuddin.wordpress.com/1262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imamuddin.wordpress.com/1262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imamuddin.wordpress.com/1262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imamuddin.wordpress.com/1262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imamuddin.wordpress.com/1262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1262&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/jalan-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0afde5bde81137908f3da5336250d671?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imamuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Bocah Kecil Terbujur Kaku Setelah Ditinggal Seminar oleh Ayah Ibunya</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/dua-bocah-kecil-terbujur-kaku-setelah-ditinggal-seminar-oleh-ayah-ibunya/</link>
		<comments>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/dua-bocah-kecil-terbujur-kaku-setelah-ditinggal-seminar-oleh-ayah-ibunya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 15:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imamuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mengharukan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita sedih]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imamuddin.wordpress.com/?p=1259</guid>
		<description><![CDATA[” Ibu kenapa ibu menyusun barang-barang kita ke dalam tas?” tanya si sulung berusia 6 tahun pada ibunya. ” Kita besok akan ke rumah nenek di kabupaten, ayah dan ibu ada seminar tiga hari di Jakarta, jadi kalian akan dititip ke rumah nenek”. ” Seminar?, apa Endo dan Endi gak boleh ikut ayah ibu seminar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1259&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">” Ibu kenapa ibu menyusun barang-barang kita ke dalam tas?” tanya si sulung berusia 6 tahun pada ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">” Kita besok akan ke rumah nenek di kabupaten, ayah dan ibu ada seminar tiga hari di Jakarta, jadi kalian akan dititip ke rumah nenek”.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1259"></span>” Seminar?, apa Endo dan Endi gak boleh ikut ayah ibu seminar ke Jakarta? “</p>
<p style="text-align:justify;">” Gak boleh sayang, kalian masih anak-anak dan ini seminar khusus untuk tenaga medis seperti ayah dan ibu “.</p>
<p style="text-align:justify;">” Oooo, apa cuma bawa baju saja kita ke sana? boleh gak Endo bawa mainan mobil-mobilan Endo? “</p>
<p style="text-align:justify;">” Tasnya gak muat sayang, nanti sampai di rumah nenek ayah belikan lagi di sana, gimana? “</p>
<p style="text-align:justify;">” Hore…hore!! Endo mau. Kalau gitu gimana kalau kita berangkat malam ini saja bu”.</p>
<p style="text-align:justify;">” Besok pagi Endo, cepatlah tidur biar besok tidak capek di jalan “.</p>
<p style="text-align:justify;">” Iya bu ” Endo beranjak ke kamar tidurnya dengan penuh semangat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesaat kemudian sang adik Endi datang kepada ibunya sambil merengek.</p>
<p style="text-align:justify;">” Kenapa ndi, abangnya nakal lagi ya?”.</p>
<p style="text-align:justify;">Bocah 4 tahun itu menggeleng.</p>
<p style="text-align:justify;">” Kata bang ndo besok adik dititip lagi ke rumah nenek, kenapa  setiap ayah ibu seminar adik dititip? boleh gak adik ikut sekali ini saja sama ibu  seminar “.</p>
<p style="text-align:justify;">” Gak boleh sayang, cuma tiga hari saja. Di rumah nenek ada ayunan loh.. maukan adik main ayunan? “.</p>
<p style="text-align:justify;">Endi mengangguk sambil menghapus air matanya. Mereka tertidur malam itu berharap pagi segera menjelang. Esoknya setelah perjalanan 4 jam, mereka sampai juga di rumah nenek. Kedatangan mereka disambut hangat oleh nenek berusia 65 tahun itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokannya ayah dan ibu telah bersiap-siap akan berangkat ke Jakarta, kedua anak mereka Endo dan Endi melepas kepergian mereka dengan deraian air mata.</p>
<p style="text-align:justify;">” Ayah, ibu, janji ya cepat pulang ” kata Endo sambil menangis terisak.</p>
<p style="text-align:justify;">” Iya sayang ayah janji, jangan nakal ya kalian di rumah nenek. Makannya yang banyak ya…Endo harus jaga baik-baik Endi dan jangan berantem “.</p>
<p style="text-align:justify;">” Iya ayah, Endo sama Endi gak akan berantem ” kata Endo.</p>
<p style="text-align:justify;">” Tapi adik mau ikut ibu ” kata Endi sibungsu yang dari tadi terus memegangi rok yang dikenakan ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">” Endi…dengar ibu ya nak, ayah sama ibu pergi cuma sebentar. Endi harus nurut ya, kan ayah dah belikan mobil baru satu sama abang satu sama adik. Jadi kalian main mobil baru di rumah nenek ya “.</p>
<p style="text-align:justify;">” Adik mau ikut ibu, adik takut tidur di tempat nenek… “.</p>
<p style="text-align:justify;">” Takut apa sih Endi, rumah nenek enak kok…ada kolam ikan, ada banyak bunga, ada ayunan, ada tv besar. Endi sama Endo harus di sini  sampai ayah ibu pulang dari Jakarta ya”.</p>
<p style="text-align:justify;">” Ayo ma kita berangkat, nanti bisa-bisa kita ketinggalan pesawat ”  tutur ayah pada ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">” Bu kami titip Endo dan Endi ya ” tutur sang ibu dengan hati berat.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun sibungsu Endi menangis meronta-ronta, neneknya segera menahan bocah itu agar ia bisa melepaskan ibunya. Sedang Endo hanya berdiri terdiam dengan sesenggukan. Dengan hati yang sedih dan bimbang sang ibu melambaikan tangan pada mereka, begitupun sang ayah. Endo membalas lambaian tangan kedua orangtuanya.</p>
<p style="text-align:justify;">” Ibu jangan lupa bawa makanan enak ya dari Jakarta ” teriak Endo dengan senyum yang dipaksakan.</p>
<p style="text-align:justify;">” Iya sayang, jaga baik-baik adikmu ya “.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan susah payah sang nenek membujuk sang cucu kecilnya Endi. Mengajaknya berkeliling rumah, mengajaknya berkebun, dan main ayunan di taman belakang rumah. Membujuk agar Endo dan Endi mau tidur dengannya dan melupakan sejenak ayah ibunya. Pekerjaan yang tak mudah buat sang nenek yang sudah setahun ini baru berjumpa lagi dengan kedua cucu tercintanya. Tubuhnya yang renta 3 hari berturut-turut harus melakukan pekerjaan ekstra, dan hari ketiga ia terlelap di sore hari saat kedua cucunya sedang asyik bermain di taman belakang rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Di taman belakang, ada sebuah sumur tua yang tertutup rapat dengan seng berkarat. Endi kecil penasaran dengan apa yang ada di balik seng. Ia menggeser seng itu dan terlihatlah sebuah sumur tua. Ia kemudian berteriak pada sang kakak Endo.</p>
<p style="text-align:justify;">” Bang, bang ndo..lihat ada terowongan, ini terowongan bawah tanah bang. Hebat ya! seperti di flim-flim perang-perang itu bang “.</p>
<p style="text-align:justify;">Endo melongokkan kepalanya melihat ke dalam terowongan yang dikatakan sang adik. Namun saat ia melongokkan kepalanya itu, tanpa sengaja mobil mainan yang dipegang sang adik tersenggol olehnya dan jatuh ke dalam sumur tua yang sudah hampir puluhan tahun tidak digunakan itu. Endi kecil menangis karena mobilnya yang terjatuh itu. Sang kakak kemudian menawarkan mobilnya untuk sang adik, namun Endi menolak mobil yang ditawarkan kakaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">” Adik gak mau, punya abang jelek. Adik mau mobilnya adik….” Kata  Endi sambil meraung-raung. Lalu hal tak terduga terjadi, niat baik Endo untuk mengambilkan mobil adiknya berujung petaka. Endo si sulung terjatuh ke dalam sumur tua. Melihat itu sang adik yang berulang kali memanggil neneknya yang tidak juga terbangun, akhirnya menyusul masuk ke terowongan untuk menyelamatkan kakaknya. Aksinya seperti flim-flim peperangan yang pernah ia tonton sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat nenek terbangun, ia sibuk mencari kedua cucunya. Setelah lama mencari dan memanggil-manggil matanya menangkap sumur tua yang terbuka dan mobil Endo di samping sumur. Hari yang mulai gelap itu ditambah penglihatan nenek yang sudah kurang baik membuat ia tidak bisa melihat apapun di dalam kolam. Akhirnya ia meminta beberapa tetangga untuk melihat ke sana. Dan kedua bocah malang itu telah terbujur kaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Para tetangga mengeluarkan jenazah kedua bocah itu disertai dengan jerit tangis sang nenek. Malam harinya ayah dan ibu pulang, sesampai di rumah nenek mereka sempat kebingungan kenapa rumah orangtua mereka itu begitu ramai. Namun sang ibu akhirnya tersungkur di samping jenazah kedua anaknya. Ia menangis sejadi-jadinya. Sang ayah juga merasakan kepedihan yang sama. Sedih yang dalam dan teramat sangat.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat pemakaman sang ibu masih terngiang-ngiang kata-kata terakhir kedua buah hatinya. Saat dimana tangan Endi tak mau melepasnya. Makanan lezat yang ia simpan baik-baik di dalam tasnya, dan semua kisah tentang Endo dan Endi. Banyak penyesalan terselip di hati mereka masing-masing. Ada satu perasaan remuk dan kehancuran menghimpit keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;">” Ma, hidup ini penuh perjuangan dan penuh pengorbanan. Apakah kita juga akan mengorbankan orang-orang di desa yang masih mengharap uluran tangan kita? mereka hanya tahu kita adalah perpanjangan tangan Tuhan. Mama mau kita sampai kapan begini terus, Endo dan Endi sudah tenang di sana. Kita harus relakan, karena jika Tuhan berkehendak siapa yang sanggup menghentikannya. Apakah tekad mama yang dulu ingin mengabdikan diri demi orang banyak telah sirna dengan kepergian anak-anak kita? “</p>
<p style="text-align:justify;">” Seandainya saja mama atau kita tidak ikut seminar, mungkin kita tak akan kehilangannya “.</p>
<p style="text-align:justify;">” Seandainya mama berpikiran terus demikian mama tak akan bisa berjalan ke depan ma, andaikan kita tahu musibah itu akan terjadi pastilah kita tak akan pergi meskipun seminar itu penting dan diwajibkan kepala dinas. Tapi kita tak tahu kan ma? kita tak tahu apa yang Tuhan kehendaki dari hidup kita “.</p>
<p style="text-align:justify;">” Baiklah, tapi kita akan berkunjung sekali lagi ke kuburan anak-anak itu barulah kita akan pulang ke desa. Berat rasanya kembali ke rumah kita tanpa anak-anak, kenangan yang begitu banyak di sana membuatku takut tak sanggup melewati hari-hari tanpa mereka, rumah itu pasti akan terasa amat sepi ya pa? “.</p>
<p style="text-align:justify;">” Besok kita akan ke sana, nanti kalau kita ada waktu kita akan berkunjung  lagi ke kuburan. Tuhan pasti akan membantu menguatkan kita ma, percayalah… “.</p>
<p style="text-align:justify;">” Katakanlah sama ibu, kita akan mengajaknya serta agar ia jangan terpuruk dengan perasaan bersalah sendirian di sini “.</p>
<p style="text-align:justify;">(Cerita diangkat dari kisah nyata, peristiwa terjadi pada tahun 1997 di Kal-Bar)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/10/13/dua-bocah-kecil-terbujur-kaku-setelah-ditinggal-seminar-oleh-ayah-ibunya/">Sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imamuddin.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imamuddin.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imamuddin.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imamuddin.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imamuddin.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imamuddin.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imamuddin.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imamuddin.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imamuddin.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imamuddin.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imamuddin.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imamuddin.wordpress.com/1259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imamuddin.wordpress.com/1259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imamuddin.wordpress.com/1259/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1259&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/dua-bocah-kecil-terbujur-kaku-setelah-ditinggal-seminar-oleh-ayah-ibunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0afde5bde81137908f3da5336250d671?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imamuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimpi Salah Alamat</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/mimpi-salah-alamat/</link>
		<comments>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/mimpi-salah-alamat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 15:35:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imamuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[alamat palsu]]></category>
		<category><![CDATA[cerita cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cinta]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[salah alamat]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imamuddin.wordpress.com/?p=1257</guid>
		<description><![CDATA[Friday, April 08, 2011 Dari tadi mataku serius menatap layar Blackberry ku, padahal yang ku buka hanyalah situs jejaring social yang beberapa bulan terakhir ini rajin kujamah, yang membuatku bertemu dengannya lagi. Setelah sekian lama dia menghilang dari hidupku, sebenarnya tidak begitu jelas, aku atau dia yang “pergi” tapi kami memang saling meninggalkan. Saling menjauh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1257&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Friday, April 08, 2011</p>
<p style="text-align:justify;">Dari tadi mataku serius menatap layar Blackberry ku, padahal yang ku buka hanyalah situs jejaring social yang beberapa bulan terakhir ini rajin kujamah, yang membuatku bertemu dengannya lagi. Setelah sekian lama dia menghilang dari hidupku, sebenarnya tidak begitu jelas, aku atau dia yang “pergi” tapi kami memang saling meninggalkan. Saling menjauh dan hidup dalam lingkungan yang baru.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1257"></span>Aku tak sengaja bertemu dengannya, ketika dia asyik berbalas mention dengan salah satu temanku, ya kulihat dengan jelas nama itu layar bb ku, @BagasRadithya, dan sejak saat itu dengan resmi aku memfollow akunnya. Dan selang beberapa hari dari itu dia balas memfollowku. Tapi sampai saat ini aku maupun dia tak pernah sama sekali saling mention. Sejak saat itu aku jadi rajin “memata-matainya”, membaca tulisannya, dia masih Bagas yang sama, Bagas yang idealis, Bagas yang terkadang cuek, dan Bagas yang terkadang puitis, dan itu membuatku kembali ke potongan-potongan kisah aku dan dia yang lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah mengapa sejak saat itu, aku aktif sekali membuka akunku, terkadang ingin menyapanya, tapi tak punya keberanian untuk itu, dan buat apa? Dia pun tak begitu, dia pun tak tertegerak untuk menyapaku, atau mungkin dia sudah lupa? Tapi mengapa dia juga memfollowku balik,ataukah itu hanya bentuk rasa menghargai karena aku telah lebih dahulu memfollownya. Iya juga yah, umm ternyata itu bukan dari hatinya, dia masih Bagas yag dulu yang gengsi untuk memulai sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenanganku terasa memaksa masuk ke fikiranku, memaksaku mengenang semua tentangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaskara Radithya , lelaki yang pernah membuat indah sebuah kisah, dan lelaki itu juga yang mengoyak kisah itu. Dan memilih pergi meninggalkan kisah yang tak pernah benar-benar diselesaikan olehnya. Yang lari dengan kata terakhirnya, Maaf aku menyerah! Kata-kata yang membuatku tak percaya lagi arti kata berjuang bersama, tak percaya lagi arti kata kesetiaan, tak ingin jatuh lagi pada hati yang akhirnya malah membenci.</p>
<p style="text-align:justify;">Lamunanku membawaku pada hari dimana kita bertengkar hebat di teras kostanku. Ketika aku menjerit menyuruhnya benar-benar pergi dari hidupku, ketika itu aku merasa tak lagi mengenalnya, aku tak mengenal Bagas yang dulu, Bagas yang setia, yang begitu memujaku, yang selalu bilang aku ada untukmu , saat itu matamu memerah marah, dengan keras berkata “Aku lelah mengikuti semuapintamu, aku lelah kau doktrin, aku lelah mendengar tangisanmu yang menyalahkan aku dengan alasan-alasan itu saja” .</p>
<p style="text-align:justify;">Oh God,dadaku terasa sesak mendengar pengakuan-pengakuan darinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku membanting pintu keras-keras.Dan berlari ke kamarku, aku tak peduli melihat teman-teman kostanku, menatap curiga ingin tahu. Lalu aku masuk ke kamarku dan menangis sampai subuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Untuk sebuah perjuangan mendapatkan hatiku, tidak mudah untuk meyakinkan hatiku, butuh banyak perjuangan dan pengorbanan, butuh pembuktian, dari aku yang masih enggan berpacaran, dia sabar menanti dan mumbuktikan, dia ingin aku, dan hanya aku, dia bilang aku yang pertama dan untuk yang terakhir, lalu aku menyerah, aku menyerah untuk jatuh hati kepadanya. Tapi ternyata itu tak sama lagi ketika cinta sudah tak lagi tak terasa manis, tak ada kata sukarela, takbisa berjuang untuk mempertahankannya. Lalu baiklah aku mengizinkan ku pergi menjauh .</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ketika aku membaca namanya lagi di layar bb ku, membuat rindu yang luar biasa menyengat setelah 3 tahun kami berpisah, setelah kau pergi tiba-tiba, setelah kata terakhir melalui telepon tengah malam itu, “Maaf, aku menyerah” dan membuat airmataku membasahi wajahku. Tapi mengapa aku masih bisa merindu? Harusnya rasa itu telah terkubur oleh waktu. Ah, tapi rindu itu hal yang wajar, namanya juga tlah lama tak bertemu.</p>
<p style="text-align:justify;">Brrrrt..</p>
<p style="text-align:justify;">Alarmku membangunkanku, lagi lagi aku terbangun dari mimpi yang aneh, weird dream. Aneh banget, karena mimpi ini berlangsung terus menerus beberapa hari ini, seperti serial bersambung di mimpi-mimpiku. Aku mimpi Bagas mendekatiku lagi dan yang paling parah malam ini aku bermimpi aku dilamar olehnya. Gila kaaaan? Apa artinya ini? Aku bahkan sudah melupakannya dia bahkan masih dengan pacarnya yang dulu.Mungkin karena aku memfollow akun twtiternya, membuatku bayangan tentang dia bermunculan lagi, atau mungkin dia merindukanku, jadi aku bisa memimpikannya berturut-turut malam ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Gilaa nih, kaya nya sekarang aku jangan terlalu sering ngebaca timeline nya Bagas deh, sampai-sampai ke bawa mimpi gini. Tapi aneh banget mimpi itu berturut-turut dan ceritanya seperti bersambung. Huh, gak ngerti apa yang aku rasain sekarang, karena daritadi aku senyum senyum sendiri ngebayagin adegan di mimpi tadi yang masih terekam di otakku.</p>
<p style="text-align:justify;">Brrrtttt. Blackberry ku bergetar yang sengaja ku pasang profil silent sejak dari kantor kemarin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hallo Mb Inge” ujar suara lembut dari seberang sana</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya dek”</p>
<p style="text-align:justify;">“Mbak, hari ini kita jadi ketemuan di Soerabi Enhaii ya jam 4”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ohya, hampir aja mbak lupa ta, sip sip”</p>
<p style="text-align:justify;">“See you there sist” jawabnya segera mematikan ponselnya tampak terburu-buru</p>
<p style="text-align:justify;">Pukul 16.00</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sudah sampai duluan di Soerabi Enhaii di kawasan Kambang Iwak, tempatnya cukup nyaman buat nongkrong, teduh, asri karena tepat berada di Kambang Iwak dalam bahasa Palembang,ya dalam bahasa Indonesianya sih Kolam Ikan ya seperti danau buatan yang dikelilingi pohon mahoni tua, yah teduh sekali. Yah aku memang sering ketempat ini, hanya untuk menghabiskan sore, ngobrol sama mitha, kadang malah aku sendirian, hanya untuk baca buku, atau browsing, ya kebetulan juga daerahnya tak terlalu jauh dari rumahku, biasanya aku bisa bersepeda sore ke tempat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sorry, sist. Aku telat. Tiba-tiba sosok mungil mitha yang ceria sudah duduk disampingku.</p>
<p style="text-align:justify;">Lagi sibuk ngehayal ya mbak? Sampe gak sadar aku udah disini. Tanyanya sambil tertawa renyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, kamu nya sih kelamaan. Jus semangka ku aja udah mau abis. Ujarku berpura-pura ngambek.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tinggal pesen lagi sih mbakku, that’s on me!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yeee,yang lagi banyak duit nih kayanya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalo gitu aku pesen serabi oncom jamur, sphageti sama es kelapa muda deh.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ahhh, itu mah maruk apa laper ya mbak?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ehh, what the a hot news? Ada ceritaaa apa nih? Aku udah tahu nih, kalo nih anak traktir, pasti nih ada maunya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ihhh, mba Inge tau aja deh isi hati adek kesayangannya, ujarnya manja.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini aku mau kasih liat draft novelku, tolong dibaca dan komennya ya,. Segera yaaa mbak cantik.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tuhkaaan pasti nih,. Uda nyangka aku pasti gitu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ahhh mbak kan kamu selalu tau isi hatiku,”merayuku manja.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oya, mba Inge ada cerita apaan nih, kemaren di BBM katanya ada yg mau diceritain.”</p>
<p style="text-align:justify;">Haahahahahah, “iya ta. Kamu masih inget Bagas mantan mbak kan?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, mas Bagas kenapa mb?’ Ujar mita terlihat sangat excited mendengar ceritaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Masa mbak mimpiin dia berkali-kali dan kaya cerita bersambung gitu beberapa hari ini”.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh mungkin mbak lagi kangen banget sama Mas Bagas atau mungkin Mas Bagas nya yang lagi kangen banget mbak.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ahh, ngarang banget kamu dek. Ya gak da hubungannya sama dia sih.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ihhh mbak, ngaruh lah kalo emang cheemistri hatinya masih kuat, kalo dia kangen mbak ya masih berasa, dan kebawa lewat mimpi.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Demi apa sihh dek?” Tanyaku penasaran bercampur senang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Demi kamu dan aku.” Ahahahhahaha</p>
<p style="text-align:justify;">Sialaaaannnnn, buat aku ngarep aja sih.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mbaaaaaaaaaaaak, panjang umur banget mbak.” Ujar mita mengejutkanku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ituuuu mas Bagas kan?” Mita menunjuk kearah lelaki mengenakan t-shirt hijau tua, celana khaki.</p>
<p style="text-align:justify;">Iya, kaya nya sih itu Bagas, tapi siapa tuh cewek disebelahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku gak mengenali cewenya, tapi daritadi mereka tampak mesra, sedari tadi mereka berpegangan tangan, sesekali sang wanita mengelendot manja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kulihat Bagas berjalan menuju stage, aku tak tahu apa yang dia lakukan. Mataku terus mengekorinya. Dia berbisik dengan pemain keyboard, sepertinya dia ingin menyumbangkan sebuah lagu.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat sore semua, Bagas mulai berbicara, apa-apaan ini, apa dia mau kngasih kata sambutan, ato café ini miliknya.? Well, aku juga gak tahu siapa pemilik café ini, kemungkinan dia, dan dia ingin mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung dengan menyanyikan beberapa lagu.</p>
<p style="text-align:justify;">Maaf , saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk gadis manis berbaju biru di sebelah kiri. Inne Mahendra. I love you,Inne.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaspun menyanyikan lagu grow old with you nya, Adam Sandler. Dan setelah selesai menyanyikan lagu yang sangat mempesonaku itu, dia menghampiri wanita cantik Inne dan he purposes her! Dia melamar wanita bernama Inne itu, didepan semua para pengunjung, dan sialnya juga di depanku. Dan dia sama sekali tidak menyadari keberadaanku, atau bahkan dia tidak peduli</p>
<p style="text-align:justify;">Oh, Gosh, mimpi itu ternyata ada benarnya dia melamar wanita, tetapi objeknya bukan aku.Yampun mataku tampak berkaca mata entah karena terharu atau sedih atau kecewa karena tadi malam dia melamarku dalam mimpi dan kini dia melamar wanita lain dalam nyata.</p>
<p style="text-align:justify;">Seketika mataku gelap. Bruuuk, aku tak kuasa menahan semua, tiba-tiba semua gelap, hilang, tak sadarkan diri.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/10/13/mimpi-salah-alamat/">Sumber<br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imamuddin.wordpress.com/1257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imamuddin.wordpress.com/1257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imamuddin.wordpress.com/1257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imamuddin.wordpress.com/1257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imamuddin.wordpress.com/1257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imamuddin.wordpress.com/1257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imamuddin.wordpress.com/1257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imamuddin.wordpress.com/1257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imamuddin.wordpress.com/1257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imamuddin.wordpress.com/1257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imamuddin.wordpress.com/1257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imamuddin.wordpress.com/1257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imamuddin.wordpress.com/1257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imamuddin.wordpress.com/1257/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1257&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/mimpi-salah-alamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0afde5bde81137908f3da5336250d671?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imamuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Cinta dari Istri tuk Suami</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/surat-cinta-dari-istri-tuk-suami/</link>
		<comments>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/surat-cinta-dari-istri-tuk-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 15:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imamuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[allah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cerita islami]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[isteri]]></category>
		<category><![CDATA[karena cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>
		<category><![CDATA[surat cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imamuddin.wordpress.com/?p=1255</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarrakatuh Kuuntai kalimatku dengan goresan pena ini, untukmu, suamiku yang kucintai, semoga engkau lebih berbahagia. Membaca suratmu, wahai suamiku, menjadikan aku ingat masa lalu. Aku merasakan makna kalimat-kalimatmu sebagaimana aku rasakan tatkala engkau sampaikan kalimat-kalimat itu saat kita baru memulai hidup bersama dahulu. Kini, setelah semua berlalu, dan setelah aku hampir terlupa akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1255&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarrakatuh</p>
<p>Kuuntai kalimatku dengan goresan pena ini, untukmu, suamiku yang kucintai, semoga engkau lebih berbahagia. Membaca suratmu, wahai suamiku, menjadikan aku ingat masa lalu. Aku merasakan makna kalimat-kalimatmu sebagaimana aku rasakan tatkala engkau sampaikan kalimat-kalimat itu saat kita baru memulai hidup bersama dahulu. Kini, setelah semua berlalu, dan setelah aku hampir terlupa akan kalimat-kalimat itu, engkau goreskan kalimat itu untuk kedua kalinya. Kusampaikan jazakallohu khoiran, Suamiku, atas kebaikanmu, dan atas perhatianmu kepadaku, istrimu.<span id="more-1255"></span></p>
<p>Suamiku yang kucinta… Mungkin engkau telah begitu sering sering mendengar kata-kata permintaanku. Namun, aku berharap engkau takkan jemu menanggapinya. Saat ini pun, aku katakan padamu, wahai suamiku, bantulah aku menjadi sebaik-baik perhiasan duniamu. Bantulah aku menjadi salah satu dari keempat kebahagiaan hidupmu. Bila engkau meminta agar aku membantumu untuk memperbaiki akhlak dan pergaulanmu kepadaku, maka lebih dari itu, aku begitu berharap engkaulah orang yang akan mengantarkanku ke taman akhlak yang mulia bersamamu.</p>
<p>Suamiku, jika engkau bersungguh-sungguh mengatakan kepadaku apa yang engkau goreskan itu, maka lebih dari itu, aku pun berharap engkau lebih bersungguh-sungguh membimbing, mengayomi, dan menyertakanku dalam seluruh kebaikanmu. Aku ingat nasehat emas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meski itu lebih tepat disebut peringatan.</p>
<p>Peringatan bagiku sebagai seorang istri, yang tentunya perlu engkau tahu, meski aku kira engkau pun telah mengetahuinya. Aku ingat saat beliau shalallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan seorang wanita sebagai istri sepertiku dengan sabdanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam :&#8221;Maka perhatikanlah, wahai si istri, bagaimana kalian mempergauli suamimu. Sesungguhnya ia adalah surga atau nerakamu.” [HR. Ahmad 4/341 dan 6/419, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohihul Jami’ 1509 dan ash-Shohihah 6/220.]</p>
<p>Begitu jelasnya makna nasihat beliau itu, dan begitu tegasnya pernyataan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan goresan pena kita ini, semoga engkau tahu, wahai suamiku, bahwa aku begitu sangat berharap surga dan tidak ingin terjebak ke neraka sementara aku punya engkau, suamiku. Aku tahu engkau berarti surga, juga berarti neraka bagiku. Namun, aku berharap engkau mau mengerti bahwa aku tidak menginginkan neraka. Engkau pun pasti juga begitu. Maka, bantulah aku, suamiku.</p>
<p>Suamiku, tentunya engkau tahu bahwa jalan menuju surga tidaklah mudah. Namun aku berharap jalan itu akan dipermudah bagiku. Aku berharap jalan surgaku akan dengan mudah kutelusuri bersamaan dengan tetap adanya aku di sisimu. Apakah engkau paham maksudku, suamiku? Aku hanya ingin mengatakan satu pintaku: buatlah aku mampu melakukan apa pun yang membuatmu ridho kepadaku, sebab dengan begitu Allah pun akan meridhoiku.</p>
<p>Sebaliknya, belokkanlah langkahku bila aku melakukan sesuatu yang membuat Allah memurkaiku sehingga engkau pun murka kepadaku. Karena kau tahu aku begitu lemah untuk bisa menunaikan seluruh hak-hakmu. Bahkan tiada mungkin aku menunaikan seluruhnya sebab begitu agung dan tak terhingga hak-hakmu. Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan: “Hak seorang suami yang harus ditunaikan oleh istri itu (nilainya begitu besar), sehingga seandainya suami terluka bernanah di badannya, lalu istrinya menjilatinya pun belum dinilai ia telah menunaikan haknya.” [HR. Hakim dalam al-Mustadrok 2717 dan beliau mengatakan hadits ini sanadnya shohih, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohihul Jami’ 3148]</p>
<p>Rasanya, sangatlah berat bagiku untuk meraih surga itu. Mengingat betapa untuk menunaikan hak-hakmu saja begitu berat bebannya kurasa.Maka, aku hanya ingin engkau menunaikan sebagian saja dari hak-hakku agar aku bisa menunaikan hak-hakmu dengan seimbang. Semoga engkau mengerti ini, dan semoga engkau sudi menerimanya, istrimu yang lemah ini. Karena aku tahu, seperti engkau juga telah tahu, bahwa Allah Ta’ala tidak mewajibkan kepadamu selain sebagian hak-hakku semata. Bukan seluruh hak-hakku harus engkau tunaikan sehingga betapa akan semakin berat kiranya aku menunaikan hak-hakmu.</p>
<p>Suamiku, sejujurnya aku katakan bahwa kebahagiaan rumahku adalah tanggung jawabku. Menyambutmu dengan senyuman adalah rutinitas keseharianku. Ketenanganmu begitu membahagiakanku. Aku sangat suka kesuksesanmu meski hanya dengan sedikit bantuanku. Saat kutahu apa maumu, begitu ringan hidupku. Semuanya kulakukan karena aku merasa seandainya aku tidak melakukannya, hak-hakmu yang mana lagi kiranya yang kuasa kutunaikan. Maka pintaku, bantulah aku, suamiku.</p>
<p>Suamiku, aku tahu, sebagaimana engkau pun tahu, shalat adalah sebuah kunci surga bagiku. Maka bantulah aku, suamiku, sebagaimana aku biasa membantumu untuk bisa bersama-sama menunaikannya dengan baik dan diterima oleh-Nya . Aku pun tahu, sebagaimana engkau juga tahu, puasa Romadhan adalah satu kunci surga yang lain bagiku. Maka bantulah aku, suamiku, sebagaimana aku biasa membantumu untuk bisa bersama-sama menunaikannya dengan baik, dan semoga ibadah kita diterima oleh-Nya.</p>
<p>Aku tahu sebagaimana engkau juga tahu, bahwa ragaku ini, diriku ini, hanya halal buatmu seorang. Maka pintaku, berilah aku sesuatu yang halal yang bisa kunikmati sebagai nafkah lahir dan batinku. Bantulah aku berlaku pintar menunaikan hakmu, sebagaimana aku akan berusaha menjadikanmu pandai berbaik-baik kepadaku. Dengan begitu, aku berharap agar kita berkesempatan bersama menggapai ridho-Nya.</p>
<p>Aku juga tahu, sebagaimana engkau juga telah tahu bahwa menaati perintah dan ajakanmu melakukan apa pun yang Allah ridhoi adalah salah satu kunci surga yang lain bagiku. Maka pintaku, bila aku tidak kuasa melakukannya, janganlah engkau murkai kekuranganku tapi perintahlah aku dengan sesuatu yang lain yang aku kuasai melakukannya. Dan bila aku telah kuasa melakukan apa yang engkau perintahkan, dan aku telah memenuhi ajakanmu, janganlah lupakan Dzat Yang Maha Kuasa .</p>
<p>Bersyukurlah kepada-Nya sebelum kau ucapkan kata terima kasihmu padaku. Dengan begitu, aku berharap ridho-Nya dan juga ridhomu. Karena aku berharap surga-Nya. Semoga engkau memahami ini, suamiku. Seandainya ada tinta emas dalam pena kita ini, tentu aku akan tuliskan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini sebagai syi’ar yang lebih berarti bagiku, dan semoga akan selalu kita baca dan kita tunaikan bersama. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Jika seorang istri telah baik shalat lima waktunya, telah baik puasa (ramadhannya), telah baik dalam menjaga farjinya, telah baik ketaatannya kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: “Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana pun yang kau suka”.” [HR. Ahmad 1573, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohihul Jami’ 660]</p>
<p>Suamiku, jujur aku katakan, bukan aku belum pernah mendapati bantuanmu. Bukan. Bukan aku belum pernah mendapati engkau penuhi pintaku. Bukan. Namun aku bersyukur kepada Allah Ta’ala, selanjutnya kepadamu, atas semua yang telah engkau berikan sebagai kemudahan bagiku menuju ridho-Nya dan ridhomu. Aku hanya berharap menjadi istrimu yang akan menyenangkanmu di dunia juga di akhiratmu. Bantulah aku, semoga Allah memberkahi kehidupan rumah tangga kita.</p>
<p>Dari yang mencintaimu, istrimu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Oleh Abu Ammar al-Ghoyami dalam Majalah al-Mawaddah<br />
<a href="http://www.shalihah.com/" rel="nofollow nofollow" target="_blank">www.shalihah.com</a> Dinukil dari Majalah al-Mawaddah, Edisi ke-7 Tahun ke-2 :: Shofar 1430H :: Februari 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imamuddin.wordpress.com/1255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imamuddin.wordpress.com/1255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imamuddin.wordpress.com/1255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imamuddin.wordpress.com/1255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imamuddin.wordpress.com/1255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imamuddin.wordpress.com/1255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imamuddin.wordpress.com/1255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imamuddin.wordpress.com/1255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imamuddin.wordpress.com/1255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imamuddin.wordpress.com/1255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imamuddin.wordpress.com/1255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imamuddin.wordpress.com/1255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imamuddin.wordpress.com/1255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imamuddin.wordpress.com/1255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1255&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/13/surat-cinta-dari-istri-tuk-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0afde5bde81137908f3da5336250d671?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imamuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemana ‘Kan Berlabuh?</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/07/kemana-%e2%80%98kan-berlabuh/</link>
		<comments>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/07/kemana-%e2%80%98kan-berlabuh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 09:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imamuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerita cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cerita kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cinta]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[penantian]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imamuddin.wordpress.com/?p=1246</guid>
		<description><![CDATA[“Nggak mungkin, kan, semuanya sia-sia?” Aku diam menunduk. Menahan bulir-bulir yang mendesak keluar. “Ran, ” katanya meraih tanganku erat, ”kita akan menikah, kan?” Untuk pertama kali dia memanggil namaku. *** “Kalau aku titip salam untuk ibumu, mas? Apa akan kamu sampaikan?” “Nggak akan, dek.” “Lhoh, kenapa? Jahat banget.” “Karena aku yang akan mengenalkanmu langsung dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1246&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Nggak mungkin, kan, semuanya sia-sia?”</p>
<p>Aku diam menunduk. Menahan bulir-bulir yang mendesak keluar.</p>
<p>“Ran, ” katanya meraih tanganku erat, ”kita akan menikah, kan?”</p>
<p>Untuk pertama kali dia memanggil namaku.</p>
<p>***<span id="more-1246"></span></p>
<p>“Kalau aku titip salam untuk ibumu, mas? Apa akan kamu sampaikan?”</p>
<p>“Nggak akan, dek.”</p>
<p>“Lhoh, kenapa? Jahat banget.”</p>
<p>“Karena aku yang akan mengenalkanmu langsung dengan ibuku nanti. Tentu saja di waktu yang tepat dan indah.”</p>
<p>“Waktu apa itu, mas?”</p>
<p>Ia hanya tersenyum ringan memperlihatkan lesung di kedua pipinya. Manis sekali. Namun itu sama sekali tak menyembunyikan wibawanya. Teringat saat pertama aku melihatnya sebagai ketua angkatan di kampus. Wibawanya lah yang pertama kali mengesankanku. Dan tak kusangka aku bisa dekat dengannya sekarang.</p>
<p>“Doakan saja, semoga Tuhan menakdirkan kita untuk selalu bersama.”</p>
<p>“Amiiin.”</p>
<p>***</p>
<p>“Dek, kenalkan, ini kakakku.”</p>
<p>“Rania.”</p>
<p>“Adil, ” katanya tersenyum sambil menjabat tanganku.</p>
<p>Mereka memang sama, tapi berbeda. Maksudku, serupa tapi tak sama. Adam dan Adil, dua orang yang ada di hadapanku ini secara garis besar memiliki wajah yang hampir sama. Namun mereka memiliki pendapat berbeda soal hair style. Itulah yang membuatku yakin akan bisa membedakan mereka Oya, juga karena Adam memiliki wajah yang lebih oval. Selebihnya, mata, hidung, bibir, alis, mungkin bulu mata, tak ada yang berbeda. Sama persis.</p>
<p>“Pintar juga si Adam ini pilih pacar.”</p>
<p>“Bukan pacar, Dil,” Adam menyangkal, “tapi calon istri, ” ucapnya kemudian mengulas senyum manisnya itu sembari memandangku. Bisa kubayangkan, rona-rona pipiku mencuat mendengarnya. Adil tersenyum.</p>
<p>Ia mulai bercerita panjang lebar tentang studinya. Terkadang juga menjawab pertanyaan-pertanyaan tak penting yang meluncur darinya. Dibandingkan Adam, ia memang jauh lebih pandai berbicara.</p>
<p>“Aku sama Adil cuma beda lima belas menit, dek,” jawabnya ketika suatu saat aku kebingungan melihat foto-foto mereka.</p>
<p>“Maksudnya kembar, kan?”</p>
<p>“Iya, dek. Kenapa?”</p>
<p>“Aneh ah.”</p>
<p>“Lho kok, aneh?”</p>
<p>“Hehe, ya aneh aja. Aku kan jarang kenal yang kembar-kembar. Aduh, mas. Pilih mana nih enaknya?”</p>
<p>“Ya terserah mau pilih yang mana. Belum tentu juga dua-duanya mau kamu pilih. Haha.”</p>
<p>“Yee. Jahat banget sih.”</p>
<p>Ia tertawa ringan, manis dan berwibawa.</p>
<p>“Lagipula aku nggak mau buru-buru, dek. Apalagi kita akan sibuk di semester akhir ini. Mengalir saja, ya.”</p>
<p>***</p>
<p>Aku telah bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Sedikit demi sedikit aku telah bisa memberikan sesuatu untuk keluargaku, ayah, ibu, dan adik-adikku tercinta. Rasanya sangat bahagia dapat memberikan sesuatu untuk mereka. Mereka lah semangatku, tentunya selain Adam yang telah mendapat tempat khusus di hatiku. Ya, kami masih menjaganya sampai saat ini.</p>
<p>“Tunggu aku, dek. Kalau aku sudah mendapat pekerjaan yang sip, aku janji akan melamarmu.”</p>
<p>“Halah. Masa iya, mas?”</p>
<p>“Iya, dek. Pegang janji mas ya. Sekarang fokus dulu sama keinginanmu, pekerjaanmu. Waktu itu akan datang, kok. Tetap jaga hati kamu, seperti mas jaga hati mas. Ya?”</p>
<p>Hampir tiga tahun aku mengenalnya sejak semester tiga. Beberapa kali saat libur semester aku diajak berkunjung ke rumahnya di Lamongan. Keluarganya sangat hangat. Ayah, ibu, dan kakak-kakaknya, semuanya cepat akrab denganku. Bahkan lebih cepat dibanding saat awal aku mengenal Adam. Ia paling pendiam di antara keluarganya. Hingga aku sempat bingung, kadang ia seperti memberi harapan, namun kadang dipupuskannya harapan itu.</p>
<p>***</p>
<p>“Banyak bukti, Adam. Banyak kejadian yang seperti itu. Itu anaknya Pak Hendro, si Sari yang anak ketiga nikah sama suaminya yang anak mbarep. Sekarang Pak Hendro sakit-sakitan. Hidup mereka yang dulu makmur, sekarang jatuh miskin. Mbak nggak mau terjadi apa-apa sama keluarga kita, Dam, ” ujar Mbak Indah, kakak Adil dan Adam.</p>
<p>“Mbak, seperti itu tidak ada dalam agama kita. Dalam Al-Qur’an dan hadist manapun juga tidak ada penjelasan hukum seperti itu.”</p>
<p>“Mbak tahu. Tapi lihatlah faktanya. Bukannya kami sekeluarga tidak setuju dengan rencana kalian. Rania gadis yang baik. Kami sangat percaya itu. Kami hanya antisipasi untuk hal-hal buruk yang mungkin terjadi.”</p>
<p>“Dengan percaya mitos kuno yang konyol itu?” kata Adam geram. Ia sedikit menahan emosi. Dalam hati ia masih menaruh hormat pada kakak perempuan satu-satunya itu.</p>
<p>Pak Wira, ayah Adam tampak bingung dihadapkan pada keadaan ini. Sedangkan istrinya hanya melamun saja, nampaknya beliau tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Siang itu Adam meminta pada orang tuanya untuk segera melamarku.</p>
<p>***</p>
<p>“Menikahlah dengan Adil atau tinggalkan keluarga kami, ” ucap Bu Alifa dingin sembari pandangannya menyapu ombak senja itu.</p>
<p>Aku tersentak. Bagaimana mungkin beliau memberikan pilihan seperti itu? Mengapa Adil dilibatkan dalam masalah ini?</p>
<p>“Anda percaya dengan semua itu?” tanyaku setelah Adam menceritakan semuanya di telepon.</p>
<p>“Percaya atau tidak, ibu tidak tahu. Ibu hanya tidak mau terjadi apa-apa dengan kita, keluarga kita, nduk. Mengertilah, kami sangat mencintaimu, kami menginginkan kamu menjadi bagian dari keluarga kami. Karena itu ambillah keputusan. Pikirkan. Keluarga kami menyayangimu, namun bukan untuk Adam, menikahlah dengan Adil, ia juga mencintaimu. Atau tinggalkan keluarga kami.”</p>
<p>Apa lagi ini? Adil mencintaiku? Aku semakin tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa. Aku juga tak bisa membayangkan apa yang akan Adam katakan kalau ia tahu pembicaraanku dengan ibunya. Bertahun-tahun aku mengenalnya, mengenal Adam, dan bukan Adil!</p>
<p>***</p>
<p>Surabaya masih panas. Sama seperti saat pertama aku menginjakkan kaki di kota ini. Sepeda motor berdesakan berebut jalan, pengemudi mobil pun hanya bisa bersabar saat jam sibuk seperti ini. Macet luar biasa. Perjalanan yang biasa ditempuh setengah jam di jam normal, kini harus ditempuh dalam waktu dua jam! Bau polusi makin menyeruak. Bis kota ini berjalan seperti keong, mengikuti irama kemacetan. Aku mulai gerah.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang ke Ponorogo aku masih mencerna kata-kata Bu Alifa. Sejenak aku sempat membencinya, membenci seorang ibu yang tak memikirkan perasaan putranya hanya karena mitos konyol. Atau membenci seorang ibu yang tidak memikirkan putranya karena menginginkanku menikah dengan putranya yang lain. Namun aku segera menyadari, bagaimana aku membenci seorang ibu yang telah mendidik putra sebaik Adam?</p>
<p>Aku memutuskan untuk mendiskusikan semua dengan orang tuaku. Meski aku yakin ayah tidak sependapat dengan keluarga Adam yang mempercayai mitos pernikahan lusan.</p>
<p>“Jadi ibunya berkata seperti itu?”</p>
<p>Bapak diam sejenak.</p>
<p>“Bapak pernah mendengar juga tentang mitos itu. Tapi kalau orang jawa bilang, yang lahir belakangan itu malah kakaknya, karena ia mengalah agar adiknya lahir duluan.”</p>
<p>Bapak paling tidak percaya mitos, tidak seperti orang Jawa kebanyakan yang menganut Islam tanpa meninggalkan hal-hal mistik warisan nenek moyang. Bapak teguh memegang agamanya, dan aku yakin bapak tidak akan percaya dengan pernikahan lusan. Aku harap bapak mau Namun sore itu.</p>
<p>“Mungkin Adil juga baik seperti Adam. Menikahlah dengannya. Siapa tahu akan lebih bahagia.”</p>
<p>“Bagaimana bapak bisa mengatakan hal itu? Bahkan bapak belum sekalipun bertemu Adil. Rania mencintai Adam, pak,” kataku sedikit ngotot. Tidak mungkin aku membiarkan perasaanku dan Adam seperti tidak dihargai hanya karena mitos yang tak ada dasarnya.</p>
<p>“Cinta bisa tumbuh nanti. Yang penting nikah dulu, Adam baik, pasti kembarannya juga baik. Kalau kamu nggak jadi sama dua-duanya, mau cari sampai kapan? Mereka keluarga baik-baik kan. Kamu anak mbarep, nduk. Adikmu saja sudah minta dinikahkan. Kamu mau dilangkahi? Lagipula itu, teman arisan ibu, anak mbarepnya dapat suami anak ketiga, rumah tangganya tidak sampai setahun,” timpal ibu panjang lebar. Aku diam tak mengerti. Pelupuk mataku tak kuat lagi menahannya.</p>
<p>“Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, nduk!” ucap ibu lirih namun ketus. Ibu memang berwatak lebih keras dibandingkan bapak.</p>
<p>“Bapak dan ibu juga percaya pernikahan lusan, kan?” kataku terisak menahan pilu.</p>
<p>***</p>
<p>“Suasana di rumah masih panas. Bagaimana bisa ada pilihan seperti itu? Dan Adil, saudaraku sendiri. Aaargh…!”</p>
<p>Aku memahami perasaannya, yang tentu tak jauh berbeda dengan yang aku rasakan.</p>
<p>“Lalu bagaimana kamu dengan Adil, mas?”</p>
<p>“Tidak ada komunikasi sampai sekarang, semenjak ia bilang kalau ia juga menginginkanmu, dek.”</p>
<p>Aku seperti tak melihat Adam yang dulu, yang tak pernah sekalipun terlihat murung. Bahkan aku tak melihat wibawanya yang menawan hatiku. Lesung pipinya jarang terlihat, karena tak ada cahaya di wajahnya.</p>
<p>“Kita lari saja, dek,” katanya tegas ditengah keputus asaan. Seperti tiada lagi jalan keluar lainnya.</p>
<p>Aku tak ingin durhaka dengan tidak mengikuti kemauan orang tua, terutama ibu. Namun aku juga tak ingin mengorbankan Adam, perasaanku, dan perasaannya. Sejenak mungkin aku akan menyetujui perkataan Adam, namun bayangan ibu mengelebat dalam pandangan. Aku mencintai mereka berdua, Tuhan. Keputusan apa yang harus aku ambil?</p>
<p>***</p>
<p>Langit pagi begitu cerah memamerkan indahnya. Wangi bunga sedap malam semerbak di segala penjuru. Diselingi lembut wangi melati. Aku baru sadar bahwa pagi ini aku akan menikah.</p>
<p>Wanita ini tampak cantik, ia berkebaya dan berdandan layaknya seorang sinden yang aku lihat di TV. Lalu ia mulai mengoles sesuatu ke wajahku, diikuti bedak dan semacamnya. Tangannya sangat lincah memoles wajahku.Dengan saksama ia menata rambut berikut jilbabku. Ia perias yang handal.</p>
<p>“Mbak Rania cantik sekali, lho,” pujinya sambil memasang untaian melati pada jilbab putihku. Aku hanya tersenyum tipis menatap diriku di cermin.</p>
<p>Sementara ia tersenyum cerah disana dengan jas warna senada denganku.</p>
<p>***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imamuddin.wordpress.com/1246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imamuddin.wordpress.com/1246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imamuddin.wordpress.com/1246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imamuddin.wordpress.com/1246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imamuddin.wordpress.com/1246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imamuddin.wordpress.com/1246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imamuddin.wordpress.com/1246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imamuddin.wordpress.com/1246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imamuddin.wordpress.com/1246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imamuddin.wordpress.com/1246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imamuddin.wordpress.com/1246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imamuddin.wordpress.com/1246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imamuddin.wordpress.com/1246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imamuddin.wordpress.com/1246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1246&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/07/kemana-%e2%80%98kan-berlabuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0afde5bde81137908f3da5336250d671?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imamuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perangkat Mengajar EEK Berkarakter SD / MI ( Pemetaan, Silabus, RPP, Prota, Promes, Pemetaan SK dan KD )</title>
		<link>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/02/perangkat-mengajar-ekk-berkarakter-sd-mi-pemetaan-silabus-rpp-prota-promes-pemetaan-sk-dan-kd/</link>
		<comments>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/02/perangkat-mengajar-ekk-berkarakter-sd-mi-pemetaan-silabus-rpp-prota-promes-pemetaan-sk-dan-kd/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 15:08:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imamuddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perangkat Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[eek 2011]]></category>
		<category><![CDATA[perangkat mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[perangkat sd]]></category>
		<category><![CDATA[rpp]]></category>
		<category><![CDATA[rpp berkarakter]]></category>
		<category><![CDATA[rpp eek]]></category>
		<category><![CDATA[rpp sd]]></category>
		<category><![CDATA[rpp sd mi]]></category>
		<category><![CDATA[rpp silabus tematik]]></category>
		<category><![CDATA[rpp tematik sd]]></category>
		<category><![CDATA[silabus]]></category>
		<category><![CDATA[silabus eek]]></category>
		<category><![CDATA[silabus eek berkarakter]]></category>
		<category><![CDATA[silabus rpp eek berkarakter]]></category>
		<category><![CDATA[silabus sd berkarakter]]></category>
		<category><![CDATA[silabus tematik]]></category>
		<category><![CDATA[silabus tematik eek]]></category>
		<category><![CDATA[tematik]]></category>
		<category><![CDATA[tematik 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imamuddin.wordpress.com/?p=1235</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda menginginkan “Pemetaan”,  “Silabus”, “RPP”, “Prota”, “Promes”, “Pemetaan SK dan KD” tingkat satuan pendidikan SD / MI sederajat untuk semua mata pelajaran, anda dapat mendownloadnya secara gratis berikut ini: Tematik Kelas 1 Tematik Kelas 2 Tematik Kelas 3 Silabus RPP kelas 4 Silabus RPP kelas 5 Silabus RPP kelas 6 Silabus RPP Bahasa Inggris [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1235&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika anda menginginkan<strong> “Pemetaan”</strong>,  “<strong>Silabus”</strong>, <strong>“RPP”</strong>, <strong>“Prota”</strong>, <strong>“Promes”</strong>,<strong> “Pemetaan SK dan KD”</strong> tingkat satuan pendidikan <strong>SD / MI</strong> sederajat untuk semua mata pelajaran, anda dapat mendownloadnya secara gratis berikut ini:</p>
<p><a title="Tematik Kelas 1" href="http://www.ziddu.com/downloadlink/15838053/1.TEMATIK1.zip" target="_blank"><strong>Tematik Kelas 1</strong></a></p>
<p><a title="Tematik Kelas 2" href="http://www.ziddu.com/downloadlink/15838071/2.TEMATIK2.zip" target="_blank"><strong>Tematik Kelas 2</strong></a></p>
<p><a title="Tematik Kelas 3" href="http://www.ziddu.com/downloadlink/15838076/3.TEMATIK3.zip" target="_blank"><strong>Tematik Kelas 3</strong></a></p>
<p><a title="Silabus RPP kelas 4" href="http://www.ziddu.com/downloadlink/15838145/8.KELASIV.zip" target="_blank"><strong>Silabus RPP kelas 4</strong></a></p>
<p><a title="Silabus RPP Kelas 5" href="http://www.ziddu.com/downloadlink/15838120/9.KELASV.zip" target="_blank"><strong>Silabus RPP kelas 5</strong></a></p>
<p><a title="Silabus RPP Kelas 6" href="http://www.ziddu.com/downloadlink/15838123/10.KELASVI.zip" target="_blank"><strong>Silabus RPP kelas 6</strong></a></p>
<p><a title="Silabus RPP Bahasa Inggris Kelas 1-6" href="http://www.ziddu.com/downloadlink/15838082/5.BHSINGGRIS.zip" target="_blank"><strong>Silabus RPP Bahasa Inggris kelas 1-6</strong></a></p>
<p><a title="Silabus RPP PJOK Kelas 1-6" href="http://www.ziddu.com/downloadlink/15838088/6.PJOK.zip" target="_blank"><strong>Silabus RPP PJOK kelas 1-6</strong></a></p>
<p>Semua file yang tersedia dalam bentuk word, jadi anda dapat mengeditnya sesuk hati anda. Terimakasih atas kunjungan anda.</p>
<p>Selamat Bekerja!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imamuddin.wordpress.com/1235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imamuddin.wordpress.com/1235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imamuddin.wordpress.com/1235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imamuddin.wordpress.com/1235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imamuddin.wordpress.com/1235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imamuddin.wordpress.com/1235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imamuddin.wordpress.com/1235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imamuddin.wordpress.com/1235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imamuddin.wordpress.com/1235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imamuddin.wordpress.com/1235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imamuddin.wordpress.com/1235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imamuddin.wordpress.com/1235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imamuddin.wordpress.com/1235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imamuddin.wordpress.com/1235/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imamuddin.wordpress.com&amp;blog=3027252&amp;post=1235&amp;subd=imamuddin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imamuddin.wordpress.com/2011/10/02/perangkat-mengajar-ekk-berkarakter-sd-mi-pemetaan-silabus-rpp-prota-promes-pemetaan-sk-dan-kd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0afde5bde81137908f3da5336250d671?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imamuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
